Empat Alasan Kenapa Kinerja Densus 88 Perlu Dievaluasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Brimob Detasemen B Ampeldento Polda Jatim mengawal Satgas Anti Teror yang membawa barang hasil penggeledahan di rumah Abdul Hakim Munabari di kelurahan Kasin, Malang, Jawa Timur, 26 Maret 2015. Abdul Hakim Munabari merupakan terduga anggota jaringan islam radikal ISIS yang ditangkap Densus 88. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    Petugas Brimob Detasemen B Ampeldento Polda Jatim mengawal Satgas Anti Teror yang membawa barang hasil penggeledahan di rumah Abdul Hakim Munabari di kelurahan Kasin, Malang, Jawa Timur, 26 Maret 2015. Abdul Hakim Munabari merupakan terduga anggota jaringan islam radikal ISIS yang ditangkap Densus 88. TEMPO/Aris Novia Hidayat

    TEMPO.CO, Depok - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mendesak Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengevaluasi kinerja Detasemen Khusus 88 Antiteror. Alasannya, dalam penangkapan dan penggeledahan orang yang diduga sebagai teroris, mengabaikan posisi anak-anak.

    Menurut Wakil Ketua KPAI Susanto, ada empat alasan perlunya kinerja Detasemen Khusus 88 Antiteror dievaluasi. "Mereka perlu memperhatikan ikhtiar perlindungan anak," kata Susanto, kepada Tempo, Selasa, 15 Maret 2016.

    Kinerja Densus 88, kata Susanto, harus memperhatikan semua aspek dan dampak dari apa yang dilakukannya. Seperti penggeledahan di Taman Kanak-Kanan Raudhatul Atfal, Klaten, Jawa Tengah. Dalam penggeledahan ini Densus cenderung tidak memperhatikan psikologi anak. (Suasana Taman Kanak-Kanak Raudhatul Atfa Setelah Digeledah Densus 88)

    Densus 88, kata dia, datang ke Roudatul Athfal Terpadu Amanah Ummah, Dusun Brengkungan, Desa Pogung, Kecamatan Cawas, Klaten, Jawa Tengah, pada 10 Maret lalu. Saat lima mobil pasukan Densus 88 datang, anak-anak tengah mengikuti kegiatan belajar.

    Susanto menganggap sebelumnya banyak tindakan Densus 88 yang dikategorikan kurang memperhatikan prinsip-prinsip dan ikhtiar perlindungan anak. Empat perkara mengapa kinerja Densus 88 perlu dievaluasi.

    Pertama, Densus menggeledah di lokasi sekolah hingga membuat anak ketakutan. Kedua, Densus 88 pernah menangkap terduga teroris di depan balita. Ketiga, perlakuan Densus terhadap terduga teroris yang masih anak-anak tidak jauh berbeda dengan penangkapan orang dewasa. "Mestinya berbeda."

    Anak yang terduga teroris atau menjadi simpatisan kelompok radikal, hanya korban dari aneka faktor, korban indoktrinasi, dijebak, diradikalisasi, dan lain-lain. Keempat, dalam menangkap terduga teroris, seringkali fokus pada output tapi menampikkan proses. "Seharusnya, aspek proses menjadi perhatian. Penggeledahan sekolah, penggerebekan di depan anak merupakan bentuk menafikan proses etika perlindungan anak."

    Densus 88 tak hanya dikritik perihal penangkapan dan penggeledahan di area anak-anak. Kasus lainnya adalah tewasnya Siyono yang diduga teroris asal Klaten, Jawa Tengah. Dalam versi Kepolisian RI, Siyono meninggal karena ribut dengan petugas saat di dalam mobil. Siyono yang saat itu tidak diborgol, kata polisi, disebut hendak melarikan diri.

    IMAM HAMDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Portofolio Saham Asabri Melorot 2013-2017

    PT Asabri mengalami kerugian akibat gegabah mengelola investasi. Badan Pemeriksa Keuangan dan Ombudsman Republik Indonesia curiga ada penyelewengan.