Ajaran Baden Powell Memperkuat Nilai Kebangsaan Kaum Muda  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Baden Powell. allday.com

    Baden Powell. allday.com

    TEMPO.COJakarta - Pendidikan kepramukaan yang diajarkan Baden Powell menyeimbangkan antara human skills, practical skills, dan conceptual skills. "Ajarannya kini masih relevan dan jadi sensor utama menghadapi dampak negatif masyarakat digital dan globalisasi yang makin masif," kata Prof Dr Jana Anggadiredja, Tenaga Ahli Pengajar Bidang Sumber Daya Alam, Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhanas) pada Rabu, 24 Februari 2016. 

    Pernyataan Jana terkait dengan Hari Baden Powell yang ke-159 tahun pada 22 Februari 2016. Robert Stephenson Smyth Baden-Powell yang lahir 22 Februari 1857 di London, Inggris, adalah pendiri Organisasi Kepanduan Dunia. 

    BP atau bipi, panggilan Baden Powell, adalah pensiunan letnan jenderal angkatan bersenjata Britania Raya. Setelah pensiun di usia 52 tahun, dia mengabdikan diri untuk remaja di Inggris dan negara lainnya.

    Organisasi Kepanduan Dunia yang berdiri tahun 1909, saat ini memiliki 38 juta anggota di 160 negara. Di Indonesia, ada sekitar 17 juta orang yang menjadi anggotanya.

    Menurut Jana, yang pernah menjadi Wakil Ketua Kwarnas Gerakan Pramuka tahun 2008-2013, salah satu metode pendidikan yang diajarkan Baden Powell adalah learning by doing. Di dalam dunia pendidikan modern, metode tersebut kini dikenal sebagai quantum learning

    Lemhanas, kata Jana, menggunakan metode tersebut untuk mengajarkan nilai-nilai kebangsaan dalam setiap kursus yang diikuti pejabat eselon sipil dan militer, tokoh partai politik, dan lembaga nonpemerintah. 

    Jana menjelaskan nilai-nilai ajaran Baden Powell terkandung pada hampir semua nilai empat konsensus dasar yang saat ini digalakkan Lemhanas. Keempatnya adalah Pancasila, UUD 1945, NKRI, dan Bhinneka Tunggal Ika.

    Tujuan dari keempat konsensus dasar itu ialah memperkukuh ketahanan nasional. "Metode pendidikan yang diterapkan dalam pendidikan kepanduan/kepramukaan sangat tepat digunakan untuk proses pemantapan nilai-nilai kebangsaan," kata Jana, profesor riset dari Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT).
     
    Menurut dia, bila kita menyimak buku Kakawin Sutasoma karya Mpu Tantular pada abad ke-14, terkandung ajaran toleransi. Saat itu, Kerajaan Majapahit mengantisipasi adanya perbedaan suku, ras, dan keyakinan. 

    Pesan yang dituangkan dalam sesanti "Binha ika tunggal ika, tanhanna dharma mangrva" kemudian menjadi sesanti atau semboyan bangsa kita, yaitu Bhinneka Tunggal Ika (unity in diversity). 

    Jana menjelaskan, ajaran Tanhanna Dharma Mangrva (kebenaran tidak ada yang mendua) adalah ajaran hati-nurani, yang merupakan bagian dari pendidikan human skill. Esensi dari nilai-nilai yang terkandung di dalam sesanti di atas adalah toleransi, keadilan, dan gotong royong. 

    "Hal itu adalah bagian dari nilai-nilai kebangsaan yang secara berkelanjutan perlu ditanamkan kepada setiap warga, khususnya anak-anak dan remaja Indonesia," kata Jana yang menjadi anggota pramuka sejak 1970-an dan Ketua Dewan Kerja Pramuka Penegak dan Pandega (DKD) Jawa Barat pada 1980-an. 

    UNTUNG WIDYANTO 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.