Toko di Malang Ini Ganti Kresek dengan Kardus Bekas  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang relawan dari Komunitas Nol Sampah, melakukan aksi kampanye pengurangan penggunaan tas berbahan plastik. Aksi memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini sebagai upaya agar Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan Peraturan Daerah tentang larangan/pembatasan pemakaian tas kresek. Surabaya, 3 Juni 2015. FULLY SYAFI

    Seorang relawan dari Komunitas Nol Sampah, melakukan aksi kampanye pengurangan penggunaan tas berbahan plastik. Aksi memperingati Hari Lingkungan Hidup Sedunia ini sebagai upaya agar Pemerintah Kota Surabaya mengeluarkan Peraturan Daerah tentang larangan/pembatasan pemakaian tas kresek. Surabaya, 3 Juni 2015. FULLY SYAFI

    TEMPO.CO, Malang -- Toko Utama Grosir di Malang mengganti kantong plastik atau pembungkus barang belanjaan dengan kardus bekas. Bagi pembeli yang meminta kresek, diminta membayar Rp 500. "Sudah berjalan dua tahun. Awalnya, banyak yang protes dianggap pelit. Bahkan ada pembeli yang sampai marah," kata pemilik Utama Grosir, Andy Susanto, Minggu, 21 Februari 2016.

    Menurut dia, menggunakan kardus bekas lebih hemat dan aman. Semua barang belanjaan dimasukkan ke kardus bekas sehingga mudah membawanya. Sedangkan bungkus tas kresek, jika barang banyak, rawan jebol. "Lebih aman dibawa ke rumah," katanya.

    Penggunaan kardus bekas ini bermula dari harga tas kresek yang terus melonjak. Setiap bulan, Utama Grosir membelanjakan Rp 2 juta untuk membeli tas kresek. Untuk menghemat pengeluaran kantung plastik, Andy memanfaatkan kardus bekas. Kardus tersebut bekas kemasan aneka jenis barang yang tersedia di tokonya.

    "Sekarang ada pembeli yang membawa sendiri kantong kain untuk belanjaan," ujarnya.
    Awal menggunakan kantong berbahan kardus bekas, jumlah pelanggan menurun, sehingga omzet penjualannya ikut merosot. Kini, setelah diatur kantong kresek berbayar, dia berharap pelanggannya kembali.

    Atas terobosan Utama Grosir, Pemerintah Kota Malang memberikan sertifikat penghargaan terhadap toko yang menggunakan kantong ramah lingkungan. Kepala Unit Pelaksana Teknnis (UPT) Pengolahan Sampah dan Limbah Dinas Kebersihan dan Pertamanan, Rahmat Hidayat, meminta pelaku usaha yang lain juga menerapkan pola yang sama.

    "Sediakan kantong ramah lingkungan non-plastik," ujarnya. Sedangkan masyarakat diminta untuk membawa kantong sendiri saat berbelanja. Tujuannya untuk menekan sampah plastik yang sulit terurai.

    EKO WIDIANTO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Krakatau Steel di 7 BUMN yang Merugi Walaupun Disuntik Modal

    Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyoroti 7 BUMN yang tetap merugi walaupun sudah disuntik modal negara.