Menteri Yohana Deklarasi Kampanye Anti Kekerasan Anak

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yambise (duduk), Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, Anies Baswedan (ketiga dari kanan), Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara (kedua kanan), Sekjen KPAI Erlinda ( kanan) dan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aries Merdeka Sirait (kedua kiri)  usai menandatangani petisi Aksi Gerakan Memutus Kekerasan Terhadap Anak di Bundaran HI Jakarta, 14 Desember 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Yohana Susana Yambise (duduk), Menteri Kebudayaan dan Pendidikan Dasar Menengah, Anies Baswedan (ketiga dari kanan), Menteri Komunikasi dan Informatika, Rudiantara (kedua kanan), Sekjen KPAI Erlinda ( kanan) dan Ketua Komnas Perlindungan Anak, Aries Merdeka Sirait (kedua kiri) usai menandatangani petisi Aksi Gerakan Memutus Kekerasan Terhadap Anak di Bundaran HI Jakarta, 14 Desember 2014. TEMPO/Dasril Roszandi

    TEMPO.CO, Jakarta - Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Yembise mendeklarasikasikan Kampanye Nasional Akhiri Kekerasan terhadap Perempuan dan Anak.

    “Gerakan ini kami deklarasikan dengan kementerian terkait,” tutur Yohana sesaat setelah melakukan launching deklarasi di Stadion Gelora Bung Karno pada Minggu, 14 Februari 2016.

    Menteri Yohana menegaskan kekerasan terhadap perempuan dan anak harus dihentikan mulai dari sekarang. Menurut dia, pihaknya bakal kosentrasi untuk mengawal deklarasi ini dibantu dengan sejumlah kementerian terkait. Sayangnya, sejumlah menteri yang dijadwalkan mengikuti deklrasi justru tidak hadir.

    “Peren keluarga sangat penting dalam memperhatikan perempuan dan tumbuh kembang anak,” kata Yohana. Karena itu, dia mengajak masyarakat untuk membagi kasih sayang. Dia menganjurkan agar komunikasi antara orang tua dan anak semakin intens.

    Orang tua diwajibkan untuk mengawasi anak-anaknya yang menggunakan gadget, termasuk saat memiliki sosial media dan bisa mengakses berbagai situs di dunia maya. Karena tayangan pornografi juga dianggap sebagai satu di antara bentuk kekerasan terhadap anak.

    Menurut Yohana, kekerasan yang terjadi terhadap perempuan dan anak Indonesia masih banyak. Data yang dimiliki oleh Yohana, sepanjang 2015, kekerasan terhadap perempuan dan anak mencapai 5.000 kasus. Kasus kekerasan justru didominasi kekerasan terhadap perempuan dalam lingkup rumah tangga.

    Padahal, menurut Yohana, keluarga yang tidak harmonis dapat ditiru oleh anak-anak. Karena itu, dia sangat kosentrasi untuk mengurangi tingkat kekerasan di Indonesia. Bahkan dia mengaku diminta oleh UNICEF untuk membuat program mencegah terjadinya tindak kekerasan terhadap anak di Indonesia.

    AVIT HIDAYAT


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gonta-ganti UN, dari Ujian Negara hingga Kebijakan Nadiem Makarim

    Nadiem Makarim akan mengganti Ujian Nasional dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter. Gonta-ganti jenis UN sudah belangsung sejak 1965.