Terungkap, Baasyir Tak Sepaham dengan Aman Abdurrahman

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Terpidana Abu Bakar Ba'asyir (kiri), mengikuti sidang peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Cilacap, Jateng, 26 Januari 2016. Sidang kedua ini menghadirkan lima saksi dan dua alat bukti. ANTARA/Idhad Zakaria

    Terpidana Abu Bakar Ba'asyir (kiri), mengikuti sidang peninjauan kembali di Pengadilan Negeri Cilacap, Jateng, 26 Januari 2016. Sidang kedua ini menghadirkan lima saksi dan dua alat bukti. ANTARA/Idhad Zakaria

    TEMPO.CO, Jakarta - Ketua Tim Pengacara Muslim Mahendra Data mengatakan Abu Bakar Baasyir tak pernah sepaham dengan Aman Abdurrahman. Menurut dia, perbedaan yang sangat prinsipal adalah soal pandangan terhadap hukum nasional. "Abu Bakar masih memakai hukum nasional, sementara Aman tidak mau sama sekali," ucapnya saat dihubungi Tempo, Senin, 25 Januari 2016.

    Karena itu, Aman tak pernah mau didampingi pengacara untuk dibela secara hukum. "Menurut dia, hukum nasional kita tidak sesuai dengan syariah Islam," ujarnya. Mahendra menanggapi pemberitaan bahwa Aman kerap berkomunikasi dengan Baasyir. Keduanya disebut terlibat dalam teror bom di Jalan M.H. Thamrin, Jakarta Pusat, beberapa waktu lalu.

    Mahendra menegaskan, tidak ada komunikasi yang terjalin di antara keduanya. Ia menampik tudingan bahwa Baasyir masih kerap berkomunikasi dengan Aman, bahkan melalui saluran telepon. "Hebat dong kalau bisa berkomunikasi. Coba buka rekamannya kalau memang ada komunikasi via telepon," tuturnya. "Itu tidak logis."

    Ia juga menepis kabar yang menyebutkan Baasyir sering berkomunikasi atau melakukan pengajian bersama Aman saat di penjara. Menurut Mahendra, para narapidana tidak bebas berkeliaran di lingkungan lembaga pemasyarakatan. "Itu LP, bukan hotel yang mudah saling bertemu. Coba masuk dulu deh, biar bisa merasakan," ujarnya.

    Karena itu, kata Mahendra, Baasyir tidak tahu-menahu soal rencana teror bom di kawasan Sarinah tersebut, yang diduga melibatkan Aman. "Setelah mendengar kabar bom di Sarinah, Ustad Abu langsung berkata, ini nanti saya yang difitnah lagi," ucap Mahendra.

    Dia menduga ada pihak-pihak yang sengaja membuat serangan menjelang proses hukum Baasyir dilaksanakan. Seperti pada teror bom Bali I, JW Marriot, dan bom Bali II. "Itu semua terjadi menjelang kami sidang atau mengajukan PK (peninjauan kembali)," katanya. "Jangan-jangan memang ada pihak yang benci kepada Ustad Abu karena merasa tersaingi, sehingga menjadikannya sebagai kambing hitam."

    DEWI SUCI RAHAYU

    Video Terkait:


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.