Asrama Haji Boyolali Sedia 2.000 Kamar bagi Pengungsi Gafatar  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi mengawal warga eks-Gafatar saat dievakuasi dari permukiman mereka yang dibakar massa di kawasan Monton Panjang, Mempawah, Kalimantan Barat, 19 Januari 2016. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    Polisi mengawal warga eks-Gafatar saat dievakuasi dari permukiman mereka yang dibakar massa di kawasan Monton Panjang, Mempawah, Kalimantan Barat, 19 Januari 2016. ANTARA/Jessica Helena Wuysang

    TEMPO.CO, Boyolali - Asrama Embarkasi Haji Donohudan, Kabupaten Boyolali, menyiapkan 2.000 kamar untuk menampung pengungsi eks anggota organisasi Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) dari Kalimantan Barat.

    “Kemarin kami mendapat instruksi dari pimpinan (Kepala Dinas Pendapatan dan Pengelolaan Aset Provinsi Jawa Tengah) untuk menyiapkan tempat,” kata Kepala Urusan Pelayanan dan Promosi Asrama Embarkasi Haji Donohudan Turmudi saat dihubungi Tempo, Kamis, 21 Januari 2016.

    Namun, Turmudi mengaku tidak mengetahui secara rinci ihwal jumlah pengungsi yang akan ditampung di Asrama Embarkasi Haji Donohudan. Turmudi juga tidak mengetahui secara pasti kapan para pengungsi eks anggota Gafatar itu tiba di Boyolali dan akan berapa lama tinggal di asrama.

    “Informasi sementara yang kami terima, kalau tidak Sabtu ya Minggu (pekan ini),” kata Turmudi. Sementara itu, Pemerintah Kabupaten Boyolali mengaku masih mencari data valid ihwal jumlah warganya yang diduga turut hijrah atau eksodus organisasi Gafatar.

    “Data sementara yang kami terima ada empat warga Boyolali yang hendak dipulangkan dari Kalimantan,” kata Kepala Kantor Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Boyolali Supama saat ditemui Tempo, Kamis, 21 Januari 2016.

    Empat warga tersebut adalah Zainudin, 32 tahun, Sri Lestari (35), Shayna (7,5), dan Kristian (4). Namun data yang diperoleh Supama itu tidak disertai alamat lengkap masing-masing warga. Ihwal penanganan pengungsi anggota Gafatar, Supama mengatakan, hal itu sedang dibahas dalam rapat koordinasi di Pemerintah Provinsi Jawa Tengah pada Kamis siang.

    “Saya tidak hapal siapa saja yang berangkat dari Boyolali,” kata Supama. Ihwal menghilangnya 14 warga asal Dukuh Jlobog, Desa Gunungsari, Kecamatan Wonosegoro, sejak Agustus tahun lalu, Supama mengaku belum bisa memastikan kepergian mereka berkaitan dengan organisasi Gafatar.

    Sebab, Supama berujar, Kepolisian Resor Boyolali hingga kini belum menerima laporan ihwal hilangnya 14 warga dalam ikatan satu keluarga itu. Kendati demikian, Supama optimistis kepulangan para pengungsi eks anggota Gafatar di Boyolali tidak akan menimbulkan ekses yang berarti.

    “Karena sebelumnya tidak terpantau adanya aksi penolakan warga terhadap organisasi Gafatar,” kata Supama. Dihubungi via telepon, Kepala Kepolisian Sektor Wonosegoro Ajun Komisaris Joko Widodo mengatakan data hilangnya 14 warga Dukuh Jlobog itu adalah hasil penelusuran anggotanya.

    “Memang belum ada laporan resmi. Tapi saat itu kami sudah melakukan penelusuran sendiri,” kata Joko. Dia menduga 14 warga itu berkaitan dengan organisasi Gafatar. Sebab, salah satu warga yang bernama Abdul Rahman, 55 tahun, diketahui aktif memfasilitasi kegiatan Gafatar di kampungnya pada 2014.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.