18 Hari Hilang, Terduga Anggota Gafatar Akhirnya Pulang

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga melihat tabloid Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) terbitan 2014 di Jombang, Jawa Timur, 13 Januari 2016. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. ANTARA/Syaiful Arif

    Warga melihat tabloid Gafatar (Gerakan Fajar Nusantara) terbitan 2014 di Jombang, Jawa Timur, 13 Januari 2016. Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin mengatakan inti ajaran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) adalah hendak menyatukan agama-agama Ibrahim, yakni Islam, Yahudi, dan Kristiani. ANTARA/Syaiful Arif

    TEMPO.CO, Garut - Tiga warga Kabupaten Garut, Jawa Barat yang dilaporkan hilang karena diduga masuk kelompok Gerakan Fajar Nusantara atau Gafatar, telah kembali ke rumahnya di Kampung Talun, Kelurahan Regol, Kecamatan Garut Kota pada Jumat, 15 Januari 2016.

    Ketiga orang yang hilang sejak 28 Desember 2015 itu yakni Winarti, 42 tahun bersama dua anaknya Sri Putri Rahma, 17 tahun dan Andi Permana, 10 tahun. “Mereka pulang dalam keadaan lusuh pada tadi malam,” ujar Linda Ibrahim, 46 tahun, adik ipar Winarti.

    Menurut dia, sebelum pulang ke rumah, keponakannya itu sempat mengirinkan pesan singkat bahwa mereka akan pulang ke rumah. Namun mereka meminta agar kedatangannya ke Garut tidak ada yang tahu, termasuk Heriadi Atmajaya, suami Winarti. Pesan singkat itu diterima Linda sekitar pukul 19.30 WIB.

    Informasi kepulangan mereka itu langsung disampaikan keluarga ke jajaran Kepolisian Daerah Jawa Barat. Berdasarkan hasil penelusuran polisi, ketiganya berada di sekitar wilayah Jatimekar, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi. “Sekitar pukul 1 malam mereka tiba. Mereka begitu terkejut begitu melihat Heriadi ada di rumah,” ujar Linda.

    Linda mengaku, mereka datang tidak membawa apapun. Barang yang dibawa dari rumah seperti baju dan laptop tidak dibawa kembali. Bahkan mereka pun tidak banyak bicara, begitu juga soal aktivitasnya selama menghilang dari Garut.

    Pihak keluarga baru mengetahui kegiatan mereka dari Andi. Menurut anak bungsu Heriadi itu, selama di Bekasi mereka tidur ramai-ramai satu tempat bersama orang lain. Setiap hari Andi mengaku belajar seperti home schooling. Namun pernyataan itu dibantah Winarti dan Putri, mereka mengaku selama di Bekasi tinggal di rumah kos.

    Tak hanya itu, Putri juga mempermasalahkan pelaporan dirinya oleh keluarga ke polisi. Dia mengaku malu setelah membaca semua pemberitaan di media massa. Sementara Winarti mengaku alasan kepergiannya dari rumah karena pusing dengan urusan rumah tangga. “Tidak ada pernyataan Gafatar yang diucapkan kakak ipar saya. Hanya memang dia menyatakan aqidahnya sudah lain dan sudah nyaman dengan keyakinan saat ini,” ujar Linda.

    Kedatangan Winarti ini, langsung dilakukan penyelidikan oleh jajaran Kepolisian Polres Garut. Winarti dan Putri diperiksa polisi sejak pukul 14.00 WIB. Namun hingga berita ini ditulis belum ada keterangan resmi dari polisi. Pesan singkat yang dilayangka Tempo ke Kepala Bagian Operasi Polres Garut, Komisari Polisi Wira Sutriana, belum mendapatkan balasan.

    SIGIT ZULMUNIR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tito Karnavian Anggap OTT Kepala Daerah Bukan Prestasi Hebat

    Tito Karnavian berkata bahwa tak sulit meringkus kepala daerah melalui OTT yang dilakukan Komisi Pemerantasan Korupsi. Wakil Ketua KPK bereaksi.