Aktivis 98: Jokowi Belum Laksanakan Revolusi Mental

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Joko Widodo (Jokowi). REUTERS/Beawiharta

    Presiden Joko Widodo (Jokowi). REUTERS/Beawiharta

    TEMPO.CO, Jakarta - Aktivis 98 Olisias Gultom mengkritik kinerja pemerintahan Presiden Joko Widodo alias Jokowi yang belum sepenuhnya melaksanakan wacana revolusi mental terkait perubahan birokrasi yang didengungkannya saat masa kampanye dulu. "Jokowi harusnya lebih fokus pada hal ini, perubahan birokrasi. Tapi dia malah fokus pada pembangunan infrastruktur," kata Olisias saat ditemui di sebuah diskusi di Kantor Badan Relawan Nusantara pada Sabtu, 26 Desember 2015.

    Menurut Olisias, wacana revolusi mental terkait perubahan birokrasi seharusnya dilakukan oleh Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi. "Tapi, ada empat statement MenPAN-RB yang kacau. Soal ijazah palsu, dia bingung mau ngapain, menghukum tapi memaafkan," ujar Olisias.

    Ketua Badan Relawan Nusantara Edysa Tarigan Girsang juga turut mengkritik kinerja pemerintahan Jokowi. Menurutnya, arah pemerintahan saat itu tercampur aduk antara kepentingan agenda perubahan dengan agenda pemerintahan sebelumnya. "Birokrasi berjalan lambat dalam menyesuaikan diri, bekerja lambat dalam revolusi mental," tutur Edysa.

    Edysa pun menyatakan, saat ini, pemerintahan Jokowi belum berjalan pada koridor konstitusi yang benar. "Baru seakan-akan. Harusnya, Jokowi bisa menggunakan relawan sebagai kekuatan ketika partai politik menggerus dari dalam," kata Edysa.

    ANGELINA ANJAR SAWITRI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Konflik Lahan Era SBY dan 4 Tahun Jokowi Versi KPA

    Konsorsium Pembaruan Agraria menyebutkan kasus konflik agraria dalam empat tahun era Jokowi jauh lebih banyak ketimbang sepuluh tahun era SBY.