Kejagung Belum Bisa Panggil Paksa Riza Chalid, Ini Alasannya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jaksa Agung HM Prasetyo saat sesi wawancara khusus dengan Tempo Media Grup di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, 18 November 2015. TEMPO/Subekti

    Jaksa Agung HM Prasetyo saat sesi wawancara khusus dengan Tempo Media Grup di Kantor Kejaksaan Agung, Jakarta, 18 November 2015. TEMPO/Subekti

    TEMPO.CO, Bogor - Jaksa Agung Prasetyo mengatakan Kejaksaan Agung belum bisa memanggil paksa pengusaha minyak Riza Chalid terkait dengan kasus calo perpanjangan kontrak PT Freeport Indonesia. Sebab, kasus tersebut masih dalam tahap penyelidikan.

    Prasetyo mengaku sudah mendengar informasi bahwa Riza saat ini sedang berada di luar negeri. Namun dia tak mengetahui posisi pastinya. ‎"Nanti akan kami panggil, ‎saat ini masih mencari bukti awal. Belum bisa melakukan upaya paksa," katanya setelah menghadiri sidang kabinet paripurna di Istana ‎Bogor, Selasa, 8 Desember 2015. "‎Nanti, setelah penyidikan, barulah kami bisa lebih jauh."

    Kejaksaan, kata Prasetyo, akan memanggil semua pihak yang diduga mengetahui kasus itu, termasuk pegawai hotel tempat Setya Novanto dan Riza Chalid bertemu. Mereka diduga pernah bertemu di Hotel Ritz-Carlton Pacific Place di daerah Sudirman Central Business District, Jakarta.

    Sembari menunggu proses penyelidikan berjalan, Kejaksaan, kata Prasetyo, terus berkoordinasi dengan penegak hukum lain. ‎"Jauh hari sebelum melangkah, saya sudah koordinasi dengan Kepolisian dan KPK."

    Sebelumnya, Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Badrodin Haiti mengatakan tidak bisa memanggil pengusaha Riza Chalid sehubungan mangkirnya dia dalam sidang pencatutan nama Presiden Joko Widodo. Polisi pun tak bisa mengambil tindakan hukum karena kasus dugaan pemufakatan jahat di Kejaksaan Agung masih dalam tahap penyelidikan.

    FAIZ NASHRILLAH‎


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Virus Korona COVID-19 Hantam Ekonomi Indonesia pada Maret 2020

    Dampak Virus Korona terhadap perekonomian Indonesia dipengaruhi kondisi global yang makin lesu. Dunia dihantam coronavirus sejak Desember 2019.