Semeru Terbakar, Anggrek Hijau yang Langka Terancam  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemandangan puncak Gunung Semeru dilihat dari posko Kalimati, 12 Mei 2015. Kalimati juga merupakan tempat para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam menghilangkan lelah sejenak sebelum menuju puncak. TEMPO/Nur Septia Wilda

    Pemandangan puncak Gunung Semeru dilihat dari posko Kalimati, 12 Mei 2015. Kalimati juga merupakan tempat para pendaki mendirikan tenda untuk bermalam menghilangkan lelah sejenak sebelum menuju puncak. TEMPO/Nur Septia Wilda

    TEMPO.CO, Lumajang - Kepala Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TN BTS) Ayu Dewi Utari mengatakan kebakaran yang melanda puluhan hektare hutan di kawasan tersebut berdampak pada kelangsungan vegetasi, terutama tanaman anggrek.

    Lokasi kebakaran, ucap Ayu, merupakan tempat tumbuhnya anggrek hijau atau Adenalia variensis yang hanya tumbuh di Semeru. "Posisi sekarang, tumbuhan ini sedang dormansi (fase istirahat dari suatu organ tanaman)," ujar Ayu, Senin, 26 Oktober 2015. Anggrek hijau baru akan tumbuh pada Maret-April.

    Ayu menuturkan kebakaran yang terjadi saat ini juga telah mengancam kelangsungan anggrek tanah. “Kalau kebakarannya seperti ini, bisa juga umbinya ikut terbakar," kata Ayu. Jadi akan berpengaruh pada kelangsungan dan populasi tanaman tersebut.

    Kebakaran di kawasan Semeru ini sudah kedua kalinya yang terjadi di jalur pendakian. "Untuk Semeru terbakar yang diakibatkan ulah pendaki sudah dua kali terjadi," ucapnya.

    Sebelumnya, kebakaran karena ulah pendaki terjadi pada Juli-Agustus 2015 di Oro-oro Ombo. "Ini ulah pendaki yang kurang sempurna mematikan api, kemudian merembet ke Oro-oro Ombo," ujarnya.

    Seperti diberitakan sebelumnya, dalam sepekan terakhir ini, kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru dilanda kebakaran hutan. Puluhan hektare hutan ludes terbakar. Pada Senin, 26 Oktober 2015, setidaknya ada tujuh titik api yang tersebar di beberapa lokasi di kawasan tersebut. Kebakaran terjadi di sekitar Ranupani, Waturejeng, di bawah Watu Rejeng, pos 1, dekat Kandangan, serta dekat Bantengan (dua titik).

    DAVID PRIYASIDHARTA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polusi Udara Pembunuh Diam-diam

    Perubahan iklim dan pencemaran udara menyebabkan lebih dari 12,6 juta kematian per tahun. Jumlah korban jiwa ini belum pernah terjadi sebelumnya.