119 WNA Tersangka Penipuan Diserahkan ke Imigrasi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengamankan 31 WNA asal Cina dan Taiwan, di Jakarta, 25 Mei 2015. Para WNA tersebut merupakan pelaku penipuan dengan menggunakan cyber online dengan target warga negaranya sendiri yang berada di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    Petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum) Polda Metro Jaya mengamankan 31 WNA asal Cina dan Taiwan, di Jakarta, 25 Mei 2015. Para WNA tersebut merupakan pelaku penipuan dengan menggunakan cyber online dengan target warga negaranya sendiri yang berada di Republik Rakyat Tiongkok (RRT). TEMPO/M IQBAL ICHSAN

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktorat Jenderal Imigrasi Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia menerima pelimpahan 119 tersangka warga negara asing (WNA) dari Badan Reserse Kriminal Markas Besar Polri yang diduga terlibat dalam tindak pidana penipuan telecommunication fraud.

    "119 WNA ditangkap pada Selasa, 20 Oktober 2015, secara serentak di beberapa kota," kata Yurod Saleh, Direktur Penyidikan dan Penindakan Keimigrasian, di Direktorat Jenderal Imigrasi Kemenkumham, Jakarta Selatan, Kamis, 22 Oktober 2015.

    Yarod mengungkapkan bahwa para WNA yang menjadi tersangka tindak pidana penipuan tersebut berasal dari Cina dan Taiwan. "Tersangka terdiri dari 99 warga negara Cina, 80 pria, 19 wanita. 20 warga negara Taiwan, 16 pria, 4 wanita."

    Mereka ditangkap di sejumlah tempat. Sebanyak 18 orang ditangkap di Jalan Pemuda, Cirebon; 23 orang di Jalan Wahidin 25, Cirebon; 32 orang di hotel Ciputra World; 23 orang di Jalan Srikrisna, Kuta, Badung, Bali; dan 23 orang di Jalan Dewisri, Kuta, Badung, Bali.

    Direktur Intelijen Keimigrasian Entus Mufahir mengatakan saat ini 119 tersangka WNA sedang dalam proses penanganan lebih lanjut. "Masih kami dalami," katanya. Menurutnya, para imigran itu telah melanggar aturan keimigrasian. "Mereka melanggar aturan keimigrasian," kata Entus.

    Saat ini para tersangka ditempatkan di Rumah Detensi Imigrasi Kalideres, Jakarta Barat. Mereka terancam sanksi pidana sesuai Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2011 tentang Keimigrasian, dan sanksi administratif berupa deportasi.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Terobosan Nadiem di Pendidikan, Termasuk Menghapus Ujian Nasional

    Nadiem Makarim mengumumkan empat agenda utama yang dia sebut "Merdeka Belajar". Langkah pertama Nadiem adalah rencana menghapus ujian nasional.