Musim Hujan Terancam Mundur di Kalimantan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelajar melintas di depan Monumen Pembangunan Tambun Bungai yang masih diselimuti asap pekat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    Pelajar melintas di depan Monumen Pembangunan Tambun Bungai yang masih diselimuti asap pekat di Palangkaraya, Kalimantan Tengah, 3 Oktober 2015. Berdasarkan data BMKG, Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Palangkaraya menunjukkan konsenrasi partikulat PM10 mencapai angka 1917.22 mikrogram per meter kubik, sementara batas berbahaya berada di angka 350. ANTARA/Rosa Panggabean

    TEMPO.CO, Balikpapan – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika Balikpapan, Kalimantan Timur, memprediksi musim hujan bakal tertunda hingga akhir tahun ini.

    Hal ini disebabkan oleh tertundanya musim hujan akibat pekatnya kabut asap yang menaungi langit Pulau Kalimantan. “Musim hujan akan tertunda pada tahun ini hingga Desember,” kata Kepala Seksi Data dan Info BMKG Balikpapan Abdul Haris, Rabu, 21 Oktober 2015.

    Abdul mengatakan kabut asap kebakaran hutan kian pekat berkumpul di langit Pulau Kalimantan. Indikasinya terlihat dari sinar matahari yang tidak bisa menembus tebalnya kabut asap ini. “Sehingga nuansanya di Kalimantan saat ini cuacanya seperti mendung terus karena sinar matahari tidak bisa menembus hingga permukaan bumi,” tuturnya.

    Padahal panas sinar matahari dibutuhkan untuk menguapkan air laut yang menjadi cikal-bakal terbentuknya awan hujan. Saat ini yang terjadi adalah uap air laut yang terkumpul tidak cukup untuk membentuk awan hujan di atas Kalimantan. “Cuaca mendung terus tapi hawanya lebih panas daripada biasanya,” tuturnya.

    Apalagi kabut asap, kata Abdul, mempunyai sifat menyerap kandungan air pada uap air laut. Minimnya uap air saat ini makin menyulitkan terbentuknya awan hujan. Rekayasa pembuatan hujan buatan, menurut Abdul, juga tidak terlalu efektif saat ini. Hal itu terjadi karena tidak adanya awan hujan yang bisa dikumpulkan untuk menjadi hujan di Kalimantan. “Karena rekayasa hujan buatan adalah mengumpulkan awan hujan sehingga bisa terbentuk hujan di suatu kawasan. Saat ini kondisinya adalah tidak ada awan hujan yang bisa dikumpulkan,” ucapnya.

    Namun siklus alam akan dengan sendirinya menciptakan musim hujan yang terjadi menjelang Desember hingga Januari mendatang. Musim hujan ini nantinya bisa secara cepat memadamkan kebakaran hutan yang terjadi di seluruh provinsi di Kalimantan. “Musim hujan di bulan Desember dan Januari tidak bisa dihindarkan lagi,” tuturnya.

    BMKG Balikpapan terus memantau kondisi cuaca menyusul kabut asap yang makin menganggu di Kalimantan. Instansi tersebut memanfaatkan pantauan satelit cuaca di atas langit Kalimantan, seperti MTSAT, Fengsun, NOAA, Modis, dan Terra.

    SG WIBISONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.