Ritual Aneh Satu Suro, Berburu Ayam Hitam dan Mandikan Keris

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah bumbu makanan Jenang suro, sajian hidangan untuk kirab malam satu sura di Istana Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

    Sejumlah bumbu makanan Jenang suro, sajian hidangan untuk kirab malam satu sura di Istana Mangkunegaran, Solo, Jawa Tengah, 24 Oktober 2014. TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Harga ayam, terutama ayam kampung di Bojonegoro, Jawa Timur, melonjak drastis beberapa hari menjelang 1 Muharam 1436 atau 1 Suro, yang jatuh pada Rabu, 14 Oktober 2015. Ayam kampung hidup, terutama yang hitam, biasanya digunakan untuk syukuran pada malam Tahun Baru Jawa ini.

    Untuk hari-hari biasa, harga ayam kampung dijual Rp 60 – 75 ribu per ekor berukuran sedang. Belakangan, harganya melonjak menjadi Rp 120 ribu per ekor. Ayam jago hitam-merah dan ayam betina hitam, tiba-tiba jadi primadona di pasar. "Ramai dibeli," kata Barkah, 43 tahun, pedagang ayam, Selasa, 13 Oktober 2015.

    Penjual keliling ini mengatakan menjelang 1 Suro, ia menyediakan lebih dari 100 ekor ayam jago hitam-merah. Sedangkan, untuk ayam betina dipilih yang hitam. Khusus ayam hitam penuh, mulai dari bulu, kaki, hingga mulut, baik jantan maupun betina, bisa laku empat kali lipat dari harga biasanya. "Ayam seperti itu sudah dipesan jauh-jauh hari sebelumnya. Biasanya untuk upacara ritual tertentu," kata Barkah.

    Di Kabupaten Bojonegoro, kegiatan 1 Suro biasanya diisi dengan acara melek’an alias begadang semalam suntuk. Lokasinya tersebar di beberapa tempat dan dilakukan oleh puluhan orang. Misalnya, di lokasi pariwisata Api Abadi, Wana Wisata, tengah hutan di Desa Sendanghardjo, Kecamatan Ngasem, sekitar 30 kilometer arah barat daya Kota Bojonegoro.

    Di lokasi itu, biasanya ada lebih dari 100 orang menggelar seni rakyat tayuban--semacam ronggeng. Di lokasi api alam ini, juga terdapat puluhan orang menyendiri dan menggelar ritual. “Ya, kalau Satu Suro seperti itu, ramai datang orang,” ujar Kepala Desa Sendanghardjo, Prasetyo.

    Beberapa perguruan pencak silat juga memanfaatkan acara 1 Suro untuk tidak tidur semalaman. Biasanya di pusatkan di gedung-gedung dan juga lapangan sepak bola. Di antara mereka ini, ada juga kolektor benda pusaka, seperti keris dan pedang, juga tombak dikeluarkan dari tempat penyimpanannya.

    Pada malam 1 Suro, benda logam tersebut 'dimandikan'. “Ini ritual satu tahun,” ujar Ratno, salah satu pengoleksi keris, di Bojonegoro. Di sela-sela malam 1 Suro itulah, di antaranya digelar syukuran dengan mengundang sejumlah orang.

    SUJATMIKO

    ACEH SINGKIL MENCEKAM

    Aceh Singkil Mencekam, Satu Gereja Dibakar, 2 Tewas

    Gereja Dibakar di Aceh Singkil, Inilah Dugaan Penyebabnya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Dampak Screen Time pada Anak dan Cara Mengontrol

    Sekitar 87 persen anak-anak berada di depan layar digital melebihi durasi screen time yang dianjurkan.