Darurat Asap, Bantuan Asing Dipusatkan di Sumatera Selatan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Kendaraan bermotor melewati jalanan yang tertutup kabut asap. Malaysia terkena imbas dari tebalnya kabut asap, akibat kebakaran lahan dan hutan di wilayah Sumatra, Indonesia. Malaysia, 6 Oktober 2015. REUTERS/Edgar Su

    Kendaraan bermotor melewati jalanan yang tertutup kabut asap. Malaysia terkena imbas dari tebalnya kabut asap, akibat kebakaran lahan dan hutan di wilayah Sumatra, Indonesia. Malaysia, 6 Oktober 2015. REUTERS/Edgar Su

    TEMPO.CO, Kampar - Presiden Joko Widodo mengatakan bantuan asing berupa pesawat untuk mengatasi kabut asap akan dipusatkan di Sumatera Selatan. Alasannya, menurut Presiden, titik api akibat kebakaran hutan terbanyak berada di provinsi ini.

    “Memang, dari hasil checking, titik api terbanyak itu memang masih di Sumatera Selatan,” kata Presiden di Kabupaten Kampar, Provinsi Riau, dalam rilis yang dikeluarkan Tim Komunikasi Presiden, Jumat, 9 Oktober 2015.

    Presiden menjelaskan, pesawat tersebut akan membawa air untuk keperluan waterbombing dengan kapasitas 12-15 ribu liter. Pesawat yang dimiliki Indonesia hanya memiliki kapasitas angkut 500-4.300 liter.

    Sejumlah negara akan memberikan bantuan penanganan bencana asap, yaitu Singapura, Malaysia, Korea, Rusia, Australia, dan Cina. Jokowi mengatakan bantuan yang datang hari ini berasal dari Singapura. “Mungkin Minggu akan mulai berdatangan,” ucapnya. Presiden mengatakan Indonesia menerima bantuan berupa pesawat dari sejumlah negara asing untuk mempercepat pemadaman kebakaran hutan.
    ‎‎
    Dalam kunjungan kerja ke Riau, Presiden mendatangi Puskesmas Kuok untuk memastikan pelayanan kesehatan berjalan dengan baik. Sebelumnya, Presiden meninjau kondisi asap Sumatera Barat. Presiden berencana mengecek kebakaran hutan dan lahan di Jambi.

    Bupati Kampar Jefry Noer mengatakan, akibat kabut asap, jumlah penderita infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) meningkat tajam. "Di Puskesmas Kuok semula 3-4 orang, kini menjadi 20 orang tiap hari yang dirujuk karena ISPA. Kami rawat, kami obati," katanya sembari menambahkan bahwa puskesmas beroperasi selama 24 jam.

    Menteri Kesehatan Nila Moeloek berharap warga yang daerahnya masih diselimuti asap kebakaran hutan memakai masker saat beraktivitas di luar rumah. "Karena polutan itu besarnya 10 mikron dan ada yang 2,5 mikron. Namun juga ada yang seperti bentuk gas, yang memang kita agak khawatir kalau gambut itu yang terbakar. Dan ini memang kita sudah melihat dampaknya, apakah bisa nanti berbuat sesuatu, biar polutan itu yang kita tahan," katanya, seperti dikutip dari Antara.

    ANANDA TERESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.