Harga Bahan Baku Naik, Perajin Batik Bojonegoro Kelimpungan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sejumlah peserta Workshop Asian Productivity Organisation belajar menyanting batik di Sanggar Batik Semarang 16, 14 AGustus 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    Sejumlah peserta Workshop Asian Productivity Organisation belajar menyanting batik di Sanggar Batik Semarang 16, 14 AGustus 2015. TEMPO/Budi Purwanto

    TEMPO.CO, Bojonegoro - Para perajin batik di Kabupaten Bojonegoro kelimpungan karena naiknya harga bahan baku, terutama untuk pewarnaan. Naiknya harga bahan baku batik dampak dari melemahnya rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dalam satu bulan terakhir ini.

    Perajin batik di kabupaten ini tersebar di sejumlah tempat, di antaranya di Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo. Juga di Kecamatan Temayang serta Kecamatan Kota Bojonegoro. Batik ini terus berkembang, dan di Bojonegoro terdapat lebih dari 50 perajin batik.

    Menurut Achmad Aris, 34 tahun, perajin batik asal Desa Prayungan, Kecamatan Sumberejo, Bojonegoro, semenjak rupiah melemah, terjadi kenaikan harga bahan baku batik. Dari kain, pewarna, lilin, dan sejenisnya. Kenaikan dari 5 persen meningkat menjadi lebih dari 25 persen. “Saya khawatir akan terus naik,” ujarnya kepada Tempo, Minggu, 30 Agustus 2015.

    Aris mencontohkan, lilin yang digunakan untuk membatik—biasanya Rp 45 ribu—kini naik menjadi Rp 50 ribu per kilogram. Begitu juga dengan pewarna khusus kuning, dari sebelumnya Rp 200 ribu kini naik menjadi Rp 250 ribu per kilogram. Campuran pewarna khusus biru, dari sebelumnya Rp 450 ribu, naik menjadi Rp 500 ribu per kilogram.

    Kenaikan bahan baku batik ini sudah terjadi dua pekan selama Agustus 2015. Terutama setelah nilai tukar rupiah di atas Rp 13.500 per dolar AS.

    “Kawan-kawan perajin jadi resah,” kata Aris, perajin batik yang juga merangkap guru sebuah sekolah menengah kejuruan di Bojonegoro ini.

    Padahal, Aris melanjutkan, selama dua-tiga tahun belakangan ini, batik Bojonegoro sedang naik daun. Batik rumahan yang dia produksi bersama orang tuanya di Desa Prayungan relatif stabil. Minimal bisa mencetak 20 batik per hari, dan jumlah itu bisa bertambah mendekati hari-hari besar.

    Namun, dengan melemahnya rupiah terhadap dolar AS, kemungkinan ia akan mengurangi produksi atau menaikkan harga batik. Saat ini rata-rata Rp 90 ribu per potong untuk kualitas batik cap, di atas Rp 200 ribu untuk kualitas batik cap dan tulis, serta di atas Rp 300 ribu untuk batik tulis. “Saya berharap rupiah bisa bangkit,” tutur Aris.

    SUJATMIKO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.