Yayasan Supersemar, Keluarga Soeharto Harus Bayar Rp 4,3 T

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pengunjung mengamati koleksi foto mantan presiden RI Soeharto yang merupakan bagian dari peluncuran buku foto

    Pengunjung mengamati koleksi foto mantan presiden RI Soeharto yang merupakan bagian dari peluncuran buku foto "Incognito Pak Harto" menjelang haul ke-92, di Jakarta, Rabu (5/6). ANTARA/Yudhi Mahatma

    TEMPO.CO, Jakarta - Yayasan Supersemar diminta membayar ganti rugi kepada negara sebesar Rp 4,3 trilliun. Menurut Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus Widyo Pramono, proses eksekusi putusan Peninjauan Kembali terhadap kasus penyelewengan dana beasiswa Yayasan Supersemar masih menunggu kesiapan dari Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

    Menurut Widyo, Kejaksaan Agung tak bisa langsung mengeksekusi jika Pengadilan Negeri Jakarta Selatan belum bertindak. "Untuk mengeksekusi harus ada pemberitahuan secara resmi melalui pengadilan negeri setempat," kata Widyo saat dihubungi, Selasa, 11 Agustus 2015.(baca:Yayasan Supersemar Menggangsir Uang Negara)

    Widyo mengatakan saat ini Kejaksaan Agung masih menunggu salinan putusan resmi dari Mahkamah Agung. Musababnya, syarat mengeksekusi adalah adanya salinan putusan Peninjauan Kembali dari Mahkamah agar dapat dirinci pertimbangan majelis hakim, sehingga untuk mengeksekusi lebih mudah.

    Menurut Widyo, saat ini lembaganya dan Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, selaku pengadilan yang menyidangkan gugatan Kejaksaan Agung terhadap Yayasan Supersemar, masih terus berkoordinasi sembari menunggu salinan putusan majelis hakim Peninjauan Kembali.(baca: Salah Ketik Denda Supersemar Dinilai Janggal)

    Mahkamah Agung mengabulkan Peninjauan Kembali yang diajukan Kejaksaan Agung terhadap perkara penyimpangan dana beasiswa Yayasan Supersemar. Mahkamah meminta bekas Presiden Soeharto, yang juga pendiri Yayasan Supersemar, tanggung renteng keluarganya karena Soeharto telah meninggal, membayar ganti rugi senilai 315 juta dolar dan Rp 139,2 miliar kepada negara. Nilainya setara Rp 4,3 triliun.

    Pada 2010, Mahkamah memutuskan bekas Presiden Soeharto dan Yayasan Supersemar bersalah melakukan perbuatan melawan hukum. Majelis kasasi saat itu dipimpin Harifin A Tumpa dengan hakim anggota Rehngena Purba dan Dirwoto. Majelis memutuskan mereka harus membayar kembali kepada negara sebesar 315 juta dolar AS dengan rincian 75 persen dari 420 juta dolar AS dan Rp 139,2 miliar merupakan dari 75 persen dari Rp 185,918 miliar. (baca: Putusan Supersemar Salah Ketik, Hakim Tak Kaget)

    Persoalan muncul ketika terjadi kesalahan dalam pengetikan putusan. MA tidak menuliskan Rp 139,2 miliar, tetapi Rp 139,2 juta alias kurang tiga angka nol.

    Kasus ini bermula ketika pemerintah yang diwakili Kejaksaan Agung menggugat Soeharto dan Yayasan Supersemar atas dugaan penyelewengan dana beasiswa. Dana yang seharusnya disalurkan kepada siswa dan mahasiswa itu justru diberikan kepada beberapa perusahaan, di antaranya PT Bank Duta 420 juta dollar AS, PT Sempati Air Rp 13,173 miliar, serta PT Kiani Lestari dan Kiani Sakti Rp 150 miliar. Negara mengajukan ganti rugi materiil 420 juta dolar AS dan Rp 185 miliar serta ganti rugi imateriil Rp 10 triliun.

    Pada 27 Maret 2008, Pengadilan Negeri Jakarta Selatan memutus Yayasan Supersemar bersalah menyelewengkan dana. Putusan itu dikuatkan Pengadilan Tinggi DKI Jakarta. Jaksa yang belum puas kemudian mengajukan kasasi.

    REZA ADITYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.