Kejagung Sita Mobil Listrik Hibah BUMN di UGM

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas berjaga di depan mobil listrik yang disita oleh Tim Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung di Kejaksaan Agung, Jakarta, 24 Juni 2015. Kejaksaan Agung menyita mobil listrik jenis bus dan minibus di dua pabrik perakitan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan 16 mobil listrik di tiga perusahaan milik BUMN yakni PGN, BRI, dan Pertamina. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    Petugas berjaga di depan mobil listrik yang disita oleh Tim Penyidik Pidana Khusus Kejaksaan Agung di Kejaksaan Agung, Jakarta, 24 Juni 2015. Kejaksaan Agung menyita mobil listrik jenis bus dan minibus di dua pabrik perakitan terkait kasus dugaan korupsi pengadaan 16 mobil listrik di tiga perusahaan milik BUMN yakni PGN, BRI, dan Pertamina. TEMPO/Dian Triyuli Handoko

    TEMPO.CO, Sleman - Mobil listrik hibah dari PT Pertamina kepada Universitas Gadjah Mada dipasangi garis penyitaan oleh Kejaksaan Agung, Selasa, 4 Agustus 2015. Tim penyidik menyita mobil itu untuk kepentingan penyidikan kasus korupsi.

    "Penyitaan ini untuk keperluan penyidikan dengan tersangka Dasep Ahmadi dan kawan-kawan," kata tim penyidikan pengadaan mobil listrik 2013, Victor Antonius, dari Kejaksaan Agung.

    Mobil itu kini mangkrak di bengkel UGM, persisnya di perumahan dosen, Bulaksumur, Catur Tunggal, Depok, Sleman. Mobil eksekutif itu berwarna putih dan masih berpelat nomor putih dengan angka merah B 2422 XTW. Kendaraan itu merupakan satu dari 16 mobil listrik pengadaan angkutan delegasi APEC 2013 di Bali. UGM adalah satu di antara sejumlah universitas yang diberi hibah.

    Program itu diprakarsai Menteri Badan Usaha Milik Negara, yang pada saat itu dijabat Dahlan Iskan. Kala itu perusahaan-perusahaan milik negara diminta mensponsori, di antaranya PT Pertamina, Bank Rakyat Indonesia, dan PT GN.

    Dalam perjalanan pembuatan mobil listrik itu, Kejaksaan Agung menemukan penyimpangan. Proyek senilai Rp 32 miliar untuk membuat mobil-mobil listrik Dasep Ahmadi dan kawan-kawan banyak yang mangkrak.

    Selain UGM, mobil listrik juga diberikan kepada Universitas Indonesia, Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Bandung, Universitas Riau, Institut Teknologi Surabaya. Tujuan sesungguhnya untuk penelitian.

    Nilai satu mobil listrik jenis eksekutif itu mencapai Rp 2,5 miliar. Pemberi hibah tidak menggunakan mobil itu. UGM juga tidak memanfaatkannya. Mobil itu hanya tersimpan di garasi. "Mobil tidak bisa dipakai, lalu dihibahkan. Ternyata juga tidak terpakai," kata dia.

    Humas UGM Wiwit Wijayanti membenarkan bahwa mobil itu memang sudah dihibahkan. Namun syarat administrasinya belum diserahkan. Sebab, setelah tanda tangan hibah, surat dibawa pemberi hibah. "Statusnya masih barang titipan," kata dia.

    Meski sudah diberi garis penyitaan Kejaksaan Agung, mobil itu tetap ada di dalam garasi. Sebelumnya Kejaksaan Agung menyita sembilan mobil listrik buatan Dasep. Jika ditambahkan dengan mobil yang dihibahkan kepada UGM, total ada sepuluh unit mobil listrik. Terdiri atas tujuh mobil microbus dan dua model eksekutif.

    MUH SYAIFULLAH


     

     

    Lihat Juga