Di Balik Peristiwa Mundurnya Penantang Risma  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Soekarwo, Ketua DPD Jawa Timur, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Pramono Edi saat pembukaan Kongres Demokrat di Surabaya, 12 Mei 2015. Kongres ini dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan dihadiri sejumlah Pimpinan Partai dan Menteri. TEMPO/Nurdiansah

    Soekarwo, Ketua DPD Jawa Timur, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan Pramono Edi saat pembukaan Kongres Demokrat di Surabaya, 12 Mei 2015. Kongres ini dibuka oleh Presiden Republik Indonesia Joko Widodo dan dihadiri sejumlah Pimpinan Partai dan Menteri. TEMPO/Nurdiansah

    TEMPO.CO, Surabaya - Pasangan bakal calon Wali Kota-Wakil Wali Kota Surabaya yang sejatinya diplot untuk "menemani" petahana Tri Rismaharini-Whisnu Sakti Buana telah dipastikan mundur. Satu di antara partai pengusungnya, Partai Demokrat, mengaku tak bisa berbuat apa-apa.

    Pasangan calon itu, Dhimam Abror Djuraid dan Haries Purwoko, tak kembali ke kantor KPU di tengah proses pendaftaran mereka, Senin, 3 Agustus 2015. KPU setempat pun akhirnya menyatakan pelaksanaan pilkada di Kota Surabaya tak bisa digelar pada jadwal semula, akhir tahun ini alias ditunda 2017 mendatang.

    “Pak Abror sudah oke sebenarnya, tapi Pak Haries tidak boleh karena keluarganya keberatan," kata Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur Soekarwo kepada Tempo saat ditemui di gedung Balai Kartika Surabaya, Senin malam, 3 Agustus 2015.

    Soekarwo yang juga Gubernur Jawa Timur itu mengungkapkan kalau surat rekomendasi yang diberikan DPP Partai Demokrat kepada Abror-Haries hanya berumur 11 jam. Dia juga menambahkan kalau awalnya pasangan itu bersedia untuk dicalonkan oleh pihaknya dan PAN Surabaya.

    Ia membantah tudingan mundurnya lagi Dhimam-Haries lantaran barter politik antara Partai Demokrat dan PDI Perjuangan tak berjalan mulus. “Ah, tak ade itu, tak ade (enggak ada itu, nggak ada),” cetusnya sambil berlalu.

    Sebelumnya, PDIP yang mengusung kembali Risma di Surabaya menyatakan sepakat untuk saling mengisi dengan Partai Demokrat yang juga mengusung petahana di Kabupaten Pacitan. Keduanya sama-sama butuh pesaing agar pilkada bisa tetap digelar tahun ini.

    Namun kesepakatan diduga berantakan kembali setelah proses pencalonan pasangan baru di Pacitan terkendala oleh mundurnya sebagian partai pengusung. Si bakal calon wakil wali kota juga tak menampakkan batang hidungnya di kantor KPU setempat. 

    Sementara, secara terpisah, Haries yang sudah hadir bersama Abror di kantor KPU Surabaya tiba-tiba meninggalkan lokasi pendaftaran itu. Jelang tengah malam dia memastikan mundur. Alasannya diminta oleh sang ibu yang tidak ingin dirinya hanya menjadi calon wakil wali kota boneka. "Tidak ada alasan lain," katanya.

    ARTIKA RACHMI FARMITA | NOFIKA DIAN 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Proyek Infrastruktur, 17 Kepala Daerah Ditangkap dalam 2 Tahun

    Sejak berdiri pada 2002 hingga sekarang, Komisi Pemberantasan Korupsi telah menangkap 121 kepala daerah terkait kasus proyek infrastruktur.