Komisi Yudisial: Komjen Budi Waseso Hanya Berpegangan KUHP  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Komisioner Komisi Yudisial (KY) Taufiqurahman Sahuri (kiri), saat memberikan keterangan pers mengenai penetapan tersangka ketua dan komisioner KY, dalam dugaan pencemaran nama baik Hakim Sarpin di Gedung KY, Jakarta, 12 Juli 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Komisioner Komisi Yudisial (KY) Taufiqurahman Sahuri (kiri), saat memberikan keterangan pers mengenai penetapan tersangka ketua dan komisioner KY, dalam dugaan pencemaran nama baik Hakim Sarpin di Gedung KY, Jakarta, 12 Juli 2015. TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO.COJakarta - Komisi Yudisial menilai Kepala Badan Reserse Kriminal Kepolisian RI Komisaris Jenderal Budi Waseso hanya memaknai hukum secara formal dalam menangani kasus Suparman Marzuki dan Taufiqurrahman Syahuri. Dua komisioner Komisi Yudisial itu menjadi tersangka kasus pencemaran nama baik.

    “Budi Waseso hanya berpegangan pada KUHP,” kata juru bicara Komisi Yudisial, Imam Anshori Saleh, ketika dihubungi Tempo pada Jumat, 24 Juli 2015. Menurut Imam, Budi Waseso tidak melihat aspek Komisi Yudisial sebagai lembaga pengawas hakim. “Ini hanya untuk kepentingan ke depan.”

    Kasus ini bermula pada komentar dua petinggi Komisi Yudisial itu atas putusan hakim Sarpin Rizaldi yang memenangkan gugatan Komisaris Jenderal Budi Gunawan melawan Komisi Pemberantasan Korupsi. Putusan Sarpin dinilai melenceng dari Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana.

    Rencananya, Suparman dan Taufiqurrahman akan diperiksa penyidik pada Senin, 27 Juli mendatang. Iman menjelaskan, Suparman belum diketahui akan memenuhi panggilan itu. Sedangkan Taufiqurrahman dipastikan datang karena sudah dipanggil tiga kali. Jika sampai melakukan penahanan, Imam menyatakan Komisi Yudisial akan bersikap. “KY akan mempersoalkan jika penangkapan tanpa sepengetahuan presiden,” ucap Imam. "Polisi seharusnya tahu itu."

    Berdasarkan Pasal 10 ayat 1 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2004 tentang Komisi Yudisial, Ketua, Wakil Ketua, dan anggota Komisi Yudisial dapat ditangkap atau ditahan hanya atas perintah Jaksa Agung setelah mendapatkan persetujuan presiden. Kecuali tertangkap tangan melakukan tindak pidana kejahatan atau, berdasarkan bukti permulaan yang cukup, disangka melakukan tindak pidana kejahatan dengan ancaman pidana mati.

    SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sulli dan Artis SM Entertaintment yang juga Tewas Bunuh Diri

    Sulli, yang bernama asli Choi Jin-ri ditemukan tewas oleh managernya pada 14 Oktober 2019. Ada bintang SM lainnya yang juga meninggal bunuh diri.