Lebaran, Ini Makanan Khas Kalimantan Barat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nasi Sungkui (kiri, kedua kiri), Lapis Sambas (tengah dan kanan), makanan khas Kalimantan Barat yang biasa disajikan ketika Lebaran. TEMPO/ASEANTY PAHLEVI

    Nasi Sungkui (kiri, kedua kiri), Lapis Sambas (tengah dan kanan), makanan khas Kalimantan Barat yang biasa disajikan ketika Lebaran. TEMPO/ASEANTY PAHLEVI

    TEMPO.CO, Pontianak - Idul Fitri di Kalimantan Barat sangat meriah dengan hidangan untuk makanan pembuka maupun hidangan untuk kudapan. Saat bersilaturahmi, biasanya semua berkumpul di kediaman orang yang dituakan. Disaat inilah, hidangan khas Lebaran selalu dinantikan.

    Berikut hidangan khas Lebaran dari Kalimantan Barat.

    1. Tapai Benaon dari Pontianak
    Ini adalah sajian khas masyarakat melayu Kota Pontianak. Terbuat dari ketan putih atau hitam. Jika menggunakan ketan putih, lazimnya masyarakat menambahkan pewarna makanan berwarna hijau, agar menarik.

    Hakikatnya, pembuatan Tapai Benaon sama dengan membuat tapai ketan biasa. Untuk menghindari efek fermentasi yang kuat, biasanya dibuat sehari menjelang Lebaran. Rasanya segar, terlebih bila disajikan dingin. Pas untuk hidangan penutup mulut, usai menyantap hidangan utama. "Walau sudah tergerus dengan penganan dari luar, seperti kukis (kue kering), Tapai Benaon merupakan sajian khas Melayu yang masih banyak peminatnya," tukas Juhermi Tahir, 60 tahun, seniman Kota Pontianak.

    Tidak jelas asal muasal makanan ini, pasalnya beberapa daerah di Jawa juga menyajikan tapai sebagai hidangan di hari Raya. "Namun sebutannya berbeda-beda," ujarnya.

    Pembuatan tape ketan ini cukup mudah, namun memakan waktu yang cukup lama. Pasalnya, beras ketan yang sudah dimasak dengan air dan ragi, harus didiamkan terlebih dahulu sebagai proses fermentasi, dan tapai terasa lezat. Penambahan gula pada tapai ketan merupakan optional, karena rasa manis dari ketan akan keluar dengan sendirinya.

    2. Ketupat Colet dari Ketapang
    Berlebaran di Kabupaten Ketapang akan disuguhkan dengan hidangan utama ketupat colet. Ketupat ketan yang direbus dengan santan dan bumbu, dimakan dengan menggunakan cocolan rendang daging. Daging dipotong kecil-kecil sehingga mudah dijumput dengan tangan.

    Menikmati ketupat colet memang dengan tangan. Masing-masing tamu akan disuguhkan piring kecil berisi rendang daging yang kuahnya dibuat kental dan sedikit manis. Rasanya lebih mirip kalio daging namun dengan sedikit kuah. Sebuah napan berisi ketupat ketan dan pisau terhitung di tengah meja.

    Rasa ketupat ketan yang gurih dan asin, bercampur rendang daging yang sedikit pedas. Elya Mubarak, 55 tahun, warga Indraprasta Semarang menjelaskan, hidangan ini yang paling dinantikan ketika berlebaran di Kampung Arab, Kabupaten Ketapang. "Kalau di Jawa biasanya hanya lontong sayur dan opor ayam. Walau pun bisa kita bikin sendiri di rumah, tapi berlebaran di kampung halaman lebih terasa seru," ujarnya.

    Elya dan keluarga besarnya akan menikmati ketupat colet usai salat Idul Fitri. Selain dengan rendang, beberapa warga juga menikmati ketupat colet dengan serundeng ale-ale. Ketapang memang dikenal dengan kota ale-ale. Ale-ale adalah sejenis kerang. Penyajian ketupat colet ale-ale kurang lebih sama dengan ketupat colet rendang.

    Elya menambahkan minuman yang khas usai menikmati hidangan utama adalah kopi jahe. Kopi lokal, digiling dengan menambahkan sedikit beras, jahe dan rempah-rempah. "Wangi kopi yang khas, menghangatkan badan. Tubuh juga lebih bugar. Minumnya disajikan dalam cawan kecil," paparnya.

    3. Kue Lapis Sambas
    Jika masyarakat pada umumnya, membuat kue kering sebagai sajian utama kudapan untuk tamu. Masyarakat Kabupaten Sambas menyajikan kue lapis sebagai sajian utama.

    Di rumah-rumah, mereka akan menyajikan tak hanya satu jenis kue lapis. Paling tidak, lima jenis yang disuguhkan untuk tamu. Kota Singkawang, yang merupakan pemekaran dari Kabupaten Sambas juga mempunyai karakteristik makanan yang sama.

    Di kediaman Idha Razak , 68 tahun, warga Kota Singkawang, berbagai macam lapis sudah tersedia di meja hidangan. Terbuat dari tepung, telur, mentega dan gula, membuat lapis ini sangat manis dan berlemak. Tak heran jika dihidangkan dalam potongan-potongan kecil. "Ada lapis susu yang bahan utama susu. Adapula lapis belacan," ujarnya.

    Nama lapis belacan memang agak aneh. Pasalnya kue lapis tersebut berwarna hitam, tetapi jika soal rasa, lapis belacan bukannya beraroma terasi. "Masing-masing kue telurnya di atas dua puluh. Cukup awet disajikan untuk seminggu, terlebih jika disimpan di kulkas," katanya. Kue lapis, lanjut Ida, merupakan hal yang paling dicari anak-anaknya yang bekerja di Pontianak.

    Sri Ranti, adalah aktivis lingkungan asal Sambas yang tinggal di Jakarta. Kue lapis merupakan salah satu hal yang dirindukannya. "Seminggu menjelang Lebaran, aroma wangi kue lapis jadi godaan tersendiri saat puasa," selorohnya.

    Di Kabupaten Sambas, Kue lapis mempunyai banyak variasi. Ada yang namanya, Kue Lapis Sepiti, Kue Lapis agar - agar, Kue Lapis Nanas, Kue Lapis Kacang, dan Lapis Sabun .

    4. Bontong Buloh dari Mempawah
    Warga Kabupaten Mempawah mempunyai penganan khas Idul Fitri yang unik. Bontong Buloh, merupakan sajian khas masyarakat disana, disajikan dengan cocolan sambal kepah.

    Tampilan Bontong Buloh, mirip Buras, yang biasa disajikan dengan cotto Makassar. Terbuat dari beras yang direbus terlebih dahulu selama lima jam. Beras dimasukkan ke dalam daun pisang, dan diikat dengan tali. Setelah itu dimasukkan ke dalam batang bambu, baru kemudian direbus. "Dewasa ini, banyak yang sudah tidak menggunakan bambu. Untuk praktis digantikan dengan paralon," ujar Sabdah, 44 tahun,  warga Penibung.

    Sabdah mengupayakan membuat Bontong Buloh setiap tahunnya. Selain mempertahankan tradisi, keempat anak-anaknya sangat menyenangi makanan ini. "Agar Bontong Buloh tak mudah basi, di hari ketiga biasanya Bontong dibakar," katanya. Selain aroma bakaran yang lezat, Bontong Buloh juga menjadi lebih gurih. "Rasanya lebaran tak lengkap jika tak ada Bontong," tukas anak sulung Sabdah, Hendra Cipta, 25 tahun.

    Cocolan sambal kepah adalah menu khas lainnya. Kepah adalah sejenis kerang yang hidup di habitat hutan Mangrove. Hutan Mangrove banyak terdapat di daerah Mempawah. Cara membuatnya sama dengan membuat sambal Balado. Namun sambal kepah buat agak manis. Sekilas, hampir sama dengan sambal ale-ale dari Kabupaten Ketapang.

    5. Nasi Sungkui Sanggau
    Bagi warga Sanggau, nasi Sungkui merupakan makanan khusus disajikan pada jamuan hari besar seperti Idul Fitri dan Idul Adha, maupun pesta. Walau demikian, nasi Sungkui ini sudah sangat jarang dijumpai.

    Salah satu alasannya adalah daun Sungkui yang sulit dijumpai. Daun Sungkui berasal dari tanaman Keririt, yakni tanaman yang tumbuh di tepian hutan. "Di sepanjang jalan, di hutan menuju Sanggau banyak dijumpai tumbuh liar," kata Permaisuri Kerajaan Pakunegara Tayan, Ratu Handayani.

    "Di rumah kita buat makanan ini, karena sekaligus mengenalkan makanan khas daerah kepada tamu yang datang," tambahnya. Nasi Sungkui dihidangkan dengan sambal nanas, serundeng, rendang daging atau ayam, bisa juga dengan opor.

    Bahan dasar nasi Sungkui adalah beras. Namun, beberapa orangtua dulu mencampur beras dengan jagung dan yoli. Yoli adalah sejenis padi-padian yang tumbuh di daerah Sanggau. "Tetapi, di masa sekarang sudah banyak yang menggunakan beras saja untuk membuat nasi Sungkui," tambah Handayani.

    Nasi Sungkui sendiri sebenarnya berupa lontong. Bentuknya kurang lebih seperti Buras, pada cotto Makassar, pipih, panjang dan beraroma khas. Cara membuatnya seperti membuat lontong daun. Beras yang sudah dicuci dibungkus dengan daun Sungkui dan dililit dengan tali.

    "Nasi Sungkui ini direbus selama empat hingga lima jam, sambil dibolak-balik agar matang merata," katanya. Perihal nasi Sungkui ini ada hikayatnya. Konon, Sungkui ini dibawa oleh Babai Cing’a sebagai bekal perjalanan sayembara yang diadakan oleh Raja. Sayembara tersebut berhadiah menikahi putri Raja Sanggau yang bernama asli putri Daranante.

    ASEANTY PAHLEVI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kerusuhan Manokwari, Bermula dari Malang Menjalar ke Sorong

    Pada 19 Agustus 2019, insiden Kerusuhan Manokwari menjalar ke Sorong. Berikut kilas balik insiden di Manokwari yang bermula dari Malang itu.