Zulkifli Hasan Nilai Perombakan Kabinet Belum Tepat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua MPR, Zulkifli Hasan, menyambut ketua umum Partai Golkar versi munas Ancol, Agung Laksono, di rumah dinas komplek Widya Chandra, Jakarta, 12 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    Ketua MPR, Zulkifli Hasan, menyambut ketua umum Partai Golkar versi munas Ancol, Agung Laksono, di rumah dinas komplek Widya Chandra, Jakarta, 12 Maret 2015. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Joko Widodo, Wakil Presiden Jusuf Kalla, para menteri Kabinet Kerja, elite partai politik, hingga Kepala Kepolisian RI dan Jaksa Agung berbuka puasa bersama di rumah Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Zulkifli Hasan. Zulkifli mengakui banyak hal dibicarakan dalam momen tersebut, termasuk perombakan kabinet.

    "Ya, nanti (pembicaraan) dilanjutkan besok di DPR," ujar Zulkifli di rumahnya, Senin, 22 Juni 2015.

    Menurut Zulkifli, perombakan kabinet dirasa belum pas karena pemerintahan Jokowi-Jusuf Kalla baru berumur enam bulan. "Kalau baru enam bulan, belum adil rasanya. Lihat saja menteri-menterinya, udah begitu mukanya. Kalau diskusi, banyak dibicarakan," ujar Zulkifli.

    Ketua Umum Partai Amanat Nasional ini mengatakan inti silaturahmi dalam acara itu yakni menyamakan persepsi demi kemajuan bangsa agar ada kebersamaan dan kekompakan.

    Buka puasa ini dilaksanakan di rumah dinas Zulkifli yang terletak di Widya Candra IV. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrawi, Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Basuki H., Menteri Ketenagakerjaan Hanif Dhakiri, serta Ketua Komisi Pemilihan Umum Husni Kamil Malik terlihat menghadiri acara itu.

    Hadir pula politikus Demokrat, Edhie Baskoro Yudhoyono, dan para ketua partai, seperti Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto, Ketua Umum Golkar Aburizal Bakrie, dan Presiden Partai Keadilan Sejahtera Anis Matta.

    TIKA PRIMANDARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kasus Kartel Harga Tiket Pesawat Siap Disidangkan

    Komisi Pengawas Persaingan Usaha menduga mahalnya harga tiket pesawat disebabkan pasar oligopolistik. Citilink dan Lion Air diduga terlibat.