Kisah Hitler: Si Penasihat Beri Tahu Indonesia yang Kaya (2)

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Anggota Parindra memberikan penghormatan bergaya

    Anggota Parindra memberikan penghormatan bergaya "Heil Hitler" saat Woerjaningrat Soekardjo Wirjopranoto menuju makam MH Thamrindi Karet, Januari 1941. Sumber: Hitlers Griff nach Asien

    TEMPO.CO, Jakarta - Untuk menulis Adolf Hitler dalam buku Hitlers Griff nach Asien, Horst H. Geerken, memulai dari riset sosok bernama Walther Hewel. Hewel merupakan orang terdekat Hitler setelah pacarnya, Eva Braun. Hewel adalah insinyur teknik industri lulusan Perguruan Tinggi Muenchen. Dari Hewellah Hitler banyak menerima informasi mengenai Hindia Belanda.

    Dialah kunci penting yang membuat hubungan Kekaisaran Jerman ketiga di bawah kekuasaan Hitler (Deutsches Reich) dengan Hindia Belanda menjadi begitu dekat. Geerken mendapat data mengenai Hewel dari sebuah arsip top secret bertanggal 11 Oktober 1945 yang ditulis bekas panglima tertinggi militer Belanda Letnan Jenderal Hendrik Alexander Seyffardt. Seyffardt adalah anggota Partai Nazi di Belanda (NSB atau Nationaal Socialistische Beweging). Dalam arsip itu Seyffardt menulis:

    “Hewel adalah informan Hitler. Dia yang memberi tahu Hitler, Hindia Belanda kaya akan bahan baku yang bisa mewujudkan ambisi besar menjadikan Jerman ibu kota dunia (Welthauptstadt Germania). Semua bahan baku yang diperlukan, seperti karet, nikel, timah, krom, kobalt, magnesium, molybdenum, aluminium bauksit, ada di sana.

    Pesawat membutuhkan ban. Ban membutuhkan karet. Dan karet tidak diproduksi di Jerman. Hindia Belanda juga kaya bahan makanan seperti gula, sagu, jagung, cokelat, beras, merica, kentang, minyak kelapa sawit, bahkan sampai pil kina, kapas, tembakau, kopi, teh, dan masih banyak lagi....”

    Itulah awal hubungan Deutsches Reich-Hindia Belanda. Jerman dikenal sebagai penghasil produk industri: pesawat terbang, mobil, mesin, senjata, kapal selam, dan sebagainya, tetapi miskin bahan baku. Semua harus diimpor. Hindia Belanda menjadi pilihan tepat.

    Dalam penelitian Geerken, “Institut Kerajaan bidang lalu lintas maritim dan ekonomi perdagangan dunia” yang didirikan Kaisar Wilhelm II pada 1914 bahkan sudah menyebutkan Hindia Belanda potensial sebagai penyedia bahan baku buat kendaraan bermotor produk Jerman. (Bersambung)

    TUTTY BAUMEISTER, DODDY HIDAYAT (MAJALAH TEMPO, 11 MEI 2015)

    Selanjutnya:

    Kisah Hitler: Penasihat Bos Nazi Bekerja di Garut (3) 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tips Menghadapi Bisa Ular dengan Menggunakan SABU

    Untuk mengatasi bisa ular, dokter Tri Maharani memaparkan bahwa bisa ular adalah protein yang hanya bisa ditawar dengan SABU polivalen.