Sulitnya Ridwan Kuliah di Berkeley, Eh Ada Berkeley Palsu  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Bandung Ridwan Kamil, mengayuh sepedanya saat meninjau gladi bersih jelang KAA menggunakan sepeda di Bandung, Jawa Barat, 23 April 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Walikota Bandung Ridwan Kamil, mengayuh sepedanya saat meninjau gladi bersih jelang KAA menggunakan sepeda di Bandung, Jawa Barat, 23 April 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COBandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil menceritakan pengalamannya selama mengenyam pendidikan master di University of California, Berkeley. Ia terpaksa hidup susah selama di Amerika karena keterbatasan biaya yang dimiliki.

    “Berat badan saya dulu cuma 65 kilo. Setelah jadi wali kota sampai 80 kilo,” kata Emil—sapaan akrab Ridwan—saat ditemui setelah menerima penghargaan Indonesia Marketers di Trans Luxury Hotel di Jalan Gatot Subroto, Bandung, Selasa, 26 Mei 2015. 

    Bagaimana tidak, selama kuliah di Berkeley, Ridwan Kamil mengaku hanya memakan makanan Cina. Sebab, sepiring makanan Cina dapat diperoleh dengan harga US$ 1.

    Dia masuk di University of California, Berkeley, pada 1997 dan lulus pada 1999. Ridwan Kamil, yang saat itu sudah menikah, terpaksa memulangkan istrinya, Atalia Kamil, ke Bandung karena keterbatasan dana di sana. “Saya selalu ingat anak dan istri di Bandung,” ujarnya.

    Sebenarnya, selain di University of California, Berkeley, Emil berkesempatan kuliah di empat perguruan tinggi terbaik lainnya di Amerika. Namun hanya Berkeley yang memberikan beasiswa dengan bentuk pembebasan biaya kuliah hingga lulus. Di Berkeley, ia mengambil jurusan Urban Design.

    Sambil berkuliah, Emil memperoleh tambahan uang dengan bekerja paruh waktu di Dinas Tata Kota Berkeley. “Apa yang saya kerjakan antara lain membuat rancangan kota melalui Photoshop,” dia menjelaskan. Photoshop merupakan perangkat lunak pada komputer untuk menunjang pembuatan gambar.

    Pada hari wisudanya, Ridwan Kamil pun merasa pilu. Sebab, tidak seperti wisudawan lain, dia datang sendirian. “Saya hanya duduk di pojokan melihat wisudawan lain bersama keluarga dan istrinya,” tuturnya. Ridwan Kamil bercerita, selain dia, saat itu mantan Wakil Menteri Perhubungan Bambang Susantono juga kuliah di sana.

    Ia lulus di Berkeley dengan indeks prestasi kumulatif 3,9. Berbeda dengan saat dirinya mengenyam pendidikan sarjana di Institut Teknologi Bandung yang hanya memperoleh IPK 2,7.

    Cerita Ridwan Kamil menunjukkan perjuangannya memperoleh gelar dari salah satu universitas bergengsi di dunia. Sebaliknya, di Tanah Air, ada pejabat dan banyak orang yang mendapat gelar mudah dari Berkeley abal-abal. 

    Menteri Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi M. Nasir melakukan inspeksi mendadak ke University of Berkley, Michigan, Amerika, yang terletak di Jalan Proklamasi, Pegangsaan, Kecamatan Menteng, Jakarta Pusat, pada 22 Mei 2015. Pak Menteri menemukan adanya dugaan praktek jual-beli ijazah. 

    Direktur Pembelajaran dan Kemahasiswaan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi Illah Sailah mengatakan pertama kali mendapat laporan tentang University of Berkley di Indonesia pada 2012. “Saat itu ada orang yang hendak melakukan penyetaraan ijazah,” ucapnya saat dihubungi, Minggu, 24 Mei 2015.

    Setiap siswa yang sudah belajar dan mendapat ijazah dari universitas di luar negeri memang harus selalu melakukan penyetaraan ijazah saat kembali ke Tanah Air. Saat itu, petugas meminta tanda bukti bahwa mahasiswa itu benar-benar belajar di universitas luar negeri dengan menunjukkan paspor, dokumen keberangkatan, dan bukti administrasi lain. “Tapi orang itu tidak bisa memberikan bukti itu sama sekali,” katanya.

    PERSIANA GALIH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Diduga Ada Enam Perkara Di Balik Teror Terhadap Novel Baswedan

    Tim gabungan kepolisian menyebutkan enam perkara yang ditengarai menjadi motif teror terhadap Penyidik KPK Novel Baswedan.