Moeldoko: Tidak Ada Negara Besar tanpa Tentara yang Kuat  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, memimpin apel gelar pasukan pengamanan KAA ke 60 di Silang Monas. Jakarta, 15 April 2015. M IQBAL ICHSAN/ TEMPO

    Panglima TNI Jenderal TNI Moeldoko, memimpin apel gelar pasukan pengamanan KAA ke 60 di Silang Monas. Jakarta, 15 April 2015. M IQBAL ICHSAN/ TEMPO

    TEMPO.CO, Banda Aceh – Panglima Tentara Nasional Indonesia Jenderal Moeldoko mengatakan sebuah negara besar di dunia pasti mempunyai tentara yang besar pula. “Tidak ada negara besar tanpa tentara yang kuat,” ujar Moeldoko dalam silaturahmi bersama Pemerintah Provinsi Aceh dan tokoh masyarakat di Pendapa Gubernur Aceh, Kamis, 21 Mei 2015.

    Menurut mantan Panglima Daerah Militer III/Siliwangi tersebut saat ini ada upaya sistematis yang berusaha mengecilkan arti TNI dari waktu ke waktu. Untuk itu Moeldoko meminta dukungan pemerintah dan masyarakat untuk bersama-sama membesarkan TNI. “Untuk menjadikan TNI yang besar dan kuat,” tuturnya.

    Moeldoko menegaskan bahwa para prajurit TNI bukanlah kepunyaannya, tetapi milik daerah dan masyarakat. Hal itu sesuai dengan semboyan tentara yaitu lahir dari rakyat dan untuk rakyat. “Kami siap beri bantuan apa pun, kami berikan segalanya untuk kemaslahatan umat, termasuk di Aceh,” ujarnya.

    Aceh, menurut Moeldoko, adalah daerah yang paling sering dia kunjungi sejak masih menjabat Kepala Staf TNI Angkatan Darat. Salah satu kegiatan Moeldoko dalam kunjungannya kali ini adalah meresmikan patung pahlawan nasional Teuku Umar di Pulau Rondo, Kota Sabang, yang merupakan pulau paling luar di ujung barat Indonesia.

    TNI punya program untuk menempatkan patung-patung pahlawan nasional di pulau-pulau terluar sebagai penanda wilayah kedaulatan Indonesia. Selain itu juga untuk menghormati perjuangan para pahlawan agar generasi muda tidak mudah lupa. “Seperti kata Bung Karno, jas merah, jangan sekali-kali melupakan sejarah,” kata Moeldoko.

    Dengan keberadaan patung pahlawan nasional di pulau-pulau terdepan, kata dia, juga sebagai upaya untuk memberi tahu kepada siapa pun para pengganggu kedaulatan dari luar Indonesia. “Hati-hati kamu jangan masuk mengganggu, begitulah ibaratnya,” katanya.

    Moeldoko hanya satu hari berada di Aceh. Dari sana dia melanjutkan perjalanannya menuju Medan, Sumatera Utara, melalui Pangkalan Udara Iskandar Muda, Kamis sore.

    ADI WARSIDI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.