Salat, Waria Pakai Sarung atau Mukena?  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Aktifitas di Sekretariat Ikatan Waria Yogyakarta, (23/11). Shinta Ratri (kiri berjilbab) terlihat berbincang dengan rekannya. TEMPO/Anang Zakaria

    Aktifitas di Sekretariat Ikatan Waria Yogyakarta, (23/11). Shinta Ratri (kiri berjilbab) terlihat berbincang dengan rekannya. TEMPO/Anang Zakaria

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Pondok Pesantren Waria Al-Fatah, Yogyakarta, menggelar diskusi terbuka untuk memperingati Isra Mi’raj Nabi Muhammad, Sabtu sore, 16 Mei 2015. Diskusi itu mengkaji sah atau tidak salat seorang waria dengan pembicara agamawan, akademikus, dan peneliti.

    Ketua Pondok Pesantren Al-Fatah Sinta Ratri mengatakan ada 40 waria yang menjadi santri di Al-Fatah. Selama ini, waria bebas menjadi laki-laki atau perempuan saat salat. Delapan orang memilih memakai mukena dan sisanya memakai sarung. “Terserah nyamannya pakai apa, karena dari nyaman itu ibadah bisa khusyuk,” kata Sinta membuka diskusi.

    Diskusi itu berlangsung sederhana di rumah Sinta. Para pembicara duduk di lantai beranda rumah, peserta duduk lesehan di halaman.

    Di rumah inilah pesantren berkantor dan menjalankan aktivitasnya sejak 2014. Pesantren Waria Al-Fatah sebenarnya berdiri sejak 2008 di Notoyudan, Yogyakarta. Namun setelah Maryani-ketua pesantren saat itu-meninggal Maret 2014, kegiatan pesantren pindah ke rumah Sinta di Kotagede.

    Pengasuh Pesantren Nurul Ummahat Kotagede Kiai Abdul Muhaimin mengatakan tak banyak agamawan dan akademikus yang membedah tema ini karena materi ini memunculkan perdebatan panjang. Namun, Muhaimin mengatakan, sah atau tidaknya salat seorang waria tak cukup dinilai dari sisi syarat formal. Semisal perdebatan tentang jenis kelamin. “Kalau dari fikih saja kayaknya tidak akan pernah ketemu,” kata kiai yang juga menjadi pembina pesantren Al-Fatah itu.

    Menurut Muhaimin, perlu tinjauan spiritualitas dalam memandang sah atau tidaknya salat waria. Isra Mi’raj, perjalanan spiritualitas Nabi, bisa menjadi contoh ibadah tak sekadar urusan fisik. Salat pada dasarnya adalah Mi’raj muslim berjumpa tuhan. Sehingga kualitas salat seseorang, selain bergantung pada spiritualitasnya, juga dari hasil setelah menjalankannya.

    “Kalau sudah Allahu Akbar mestinya menebarkan damai,” kata Muhaimin. “Bukan malah mengamuk lempar-lempar batu.”

    ANANG ZAKARIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.