Tjipta Lesmana: Jokowi, Presiden Hasil Survei

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Presiden Jokowi memberikan keterangan usai menutup Asian African Summit 2015 di JCC Senayan, Jakarta, 23 April 2015. Tiga poin kesepakatan tersebut antara lain Pesan Bandung 2015, Deklarasi Penguatan Kemitraan Asia Afrika dan Deklarasi Dukungan Untuk Palestina. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    Presiden Jokowi memberikan keterangan usai menutup Asian African Summit 2015 di JCC Senayan, Jakarta, 23 April 2015. Tiga poin kesepakatan tersebut antara lain Pesan Bandung 2015, Deklarasi Penguatan Kemitraan Asia Afrika dan Deklarasi Dukungan Untuk Palestina. ANTARA/Akbar Nugroho Gumay

    TEMPO.COJakarta - Guru besar komunikasi politik Universitas Pelita Harapan, Tjipta Lesmana, membandingkan Presiden Joko Widodo dengan enam Presiden Indonesia sebelumnya. Menurut dia, Jokowi tak memiliki bekal apa pun untuk menjadi presiden, kecuali dari hasil survei.

    "Jokowi is leader by survey. Dia tak modal apa-apa kecuali itu," ucap Tjipta dalam diskusi buku karya politikus Golkar, Bambang Soesatyo, di Jakarta, Ahad, 10 Mei 2015.

    Tjipta mengatakan karakteristik Jokowi sangat berbeda dengan Presiden Indonesia sebelumnya. Misalnya, Presiden Indonesia pertama Sukarno merupakan presiden yang tumbuh karena nasionalisme dan jasanya mendirikan negara. "Soekarno is leader by nation," ujarnya.

    Presiden Indonesia kedua Soeharto memimpin karena krisis. "Dia ada karena krisis gerakan 30 September dan krisis berikutnya," tutur Tjipta. (Baca: Video Penangkapan Artis Mirip Amel Alvi)

    Presiden Bacharuddin Jusuf Habibie, kata Tjipta, adalah tipe presiden yang diangkat karena konstitusi. Habibie diangkat untuk menggantikan Soeharto, yang mengundurkan diri dan telah menjabat selama 32 tahun.

    "Selanjutnya, Gus Dur (Abdurrachman Wahid) adalah leader by accident," ucapnya. Megawati Soekarnoputri termasuk pemimpin yang diangkat karena konstitusi. Sedangkan Susilo Bambang Yudhoyono dinilai sebagai presiden yang diangkat karena profil ketokohannya.

    Menurut Tjipta, presiden yang naik takhta karena survei rentan diintervensi. Pada pemilihan presiden tahun lalu, Jokowi memang selalu unggul dalam beberapa gelaran survei. Para pendukung Jokowi bergerak melalui media sosial.

    "Dia tak punya partai dan duit, jadi dukungan itu tak ada yang gratis," ujarnya. Salah satu dampak intervensi tersebut adalah desakan rakyat agar Jokowi merombak kabinetnya.

    Tjipta meminta Jokowi mengganti menteri dengan tokoh yang paham program Nawacita. "Kalau tidak, akan ada reshuffle berikutnya, dan kami prediksi Jokowi jatuh," tuturnya.

    PUTRI ADITYOWATI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Bagi-bagi Jatah Menteri di Komposisi Kabinet Jokowi

    Partai koalisi pemerintah membahas komposisi kabinet Jokowi - Ma'ruf. Berikut gambaran komposisi kabinet berdasarkan partai pendukung pasangan itu.