Semburan Lumpur Terancam Merendam Sekolah di Nganjuk  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pusat semburan dan wilayah yang terkena luberan lumpur panas Lapindo, tampak dari aatas Porong Sidoarjo, (26/5). ANTARA FOTO/Eric Ireng

    Pusat semburan dan wilayah yang terkena luberan lumpur panas Lapindo, tampak dari aatas Porong Sidoarjo, (26/5). ANTARA FOTO/Eric Ireng

    TEMPO.CONganjuk - Penduduk di sekitar kompleks SMP Negeri 2 Gondang, Nganjuk, resah karena ada semburan lumpur dari dasar tanah di sekolah. Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nganjuk berharap semburan ini tak akan membesar pada musim kemarau.

    Kemunculan semburan lumpur ini mengejutkan para siswa dan warga sejak sepekan terakhir. Makin hari kedalaman semburan makin bertambah dengan volume lumpur yang meningkat. Saat ini kedalaman sumber diperkirakan telah mencapai 6 meter. Semburan lumpur terjadi secara simultan setiap 60 menit sekali dengan volume berbeda.

    Noor Cholis, Kepala SMPN 2 Gondang, mengkhawatirkan semburan itu akan meluas hingga merendam ruang kelas. Sebab, posisi sumber lumpur itu berada di sebelah barat sekolah yang hanya berjarak 4 meter dari ruang keterampilan siswa.

    Aktivitas semburan ini juga telah menyebabkan penurunan permukaan tanah di sekitarnya hingga 90 sentimeter. “Kalau dibiarkan, tembok sekolah bisa ikut tergerus,” kata Noor Cholis, Kamis, 7 Mei 2015.

    Volume semburan itu juga dilaporkan makin membesar seiring tingginya intensitas hujan dalam dua hari terakhir. Jika intensitas hujan terus meningkat, dikhawatirkan volume semburan juga makin membesar hingga mengancam kawasan permukiman di sekitarnya.

    Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Nganjuk Sukoenjono mengaku belum mengetahui pasti jenis semburan itu. Dia berharap semburan ini hanyalah dampak tingginya intensitas hujan yang memicu naiknya air dari dasar tanah.

    Prediksi itu didasarkan pada bertambahnya volume semburan saat intensitas hujan tinggi. “Kami akan melihat awal musim kemarau nanti apakah semburannya berhenti atau tidak,” tuturnya.

    Meski tetap mewaspadai, dia memastikan semburan lumpur ini tidak terlalu berbahaya karena tidak disertai bau gas. Untuk sementara, kepolisian setempat memasang garis polisi di sekitar semburan untuk menjauhkan dari jangkauan anak-anak sekolah. 

    HARI TRI WASONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Gerhana Bulan Parsial Umbra Terakhir 2019

    Pada Rabu dini hari, 17 Juli 2019, bakal terjadi gerhana bulan sebagian. Peristiwa itu akan menjadi gerhana umbra jadi yang terakhir di tahun 2019.