Takut Keserempet, Ridwan Kamil Jalan Kaki ke Kantor  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Walikota Bandung Ridwan Kamil, mengayuh sepedanya saat meninjau gladi bersih jelang KAA menggunakan sepeda di Bandung, Jawa Barat, 23 April 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    Walikota Bandung Ridwan Kamil, mengayuh sepedanya saat meninjau gladi bersih jelang KAA menggunakan sepeda di Bandung, Jawa Barat, 23 April 2015. TEMPO/Aditya Herlambang Putra

    TEMPO.COBandung - Wali Kota Bandung Ridwan Kamil mengatakan saat ini ia tengah membiasakan diri berjalan kaki setiap hari menuju Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana. Hal tersebut dilakukan karena ia menilai jalan kaki lebih banyak mendatangkan manfaat daripada kebiasaan dia sebelumnya: bersepeda.

    "Saya jalan kaki selama 20 menit untuk sampai ke Balai Kota," kata Emil, sapaan akrab Ridwan, saat ditemui di Balai Kota Bandung di Jalan Wastukencana, Bandung, Selasa, 5 Mei 2015. Rumah dinas Emil di Jalan Dalem Kaum dan Balai Kota Bandung berjarak sekitar 1 kilometer.

    Sebelumnya, hampir setiap hari ia memilih menggunakan sepeda untuk menuju Balai Kota Bandung. Emil mengatakan hingga saat ini ia masih takut keserempet jika menggunakan sepeda.

    Keuntungan lain berjalan kaki, kata Emil, adalah bisa menyapa langsung warga dengan dekat. "Dadah-dadah dulu dengan loper koran, mengobrol, foto-foto, lihat berbagai macam aktivitas warga. Bagi saya, itu menyenangkan," ujarnya.

    Namun ia menjelaskan jalan kaki hanya dilakukan untuk menuju Balai Kota Bandung dari rumah dinasnya. Sedangkan jika ada kegiatan di luar itu, Emil akan menggunakan sepeda atau mobil dinas. "Tapi jalan kaki hanya untuk pergi dan pulang dari Balai Kota. Ke tempat-tempat lain dari Balai Kota tetap naik sepeda," tuturnya.

    Sebelumnya, selama dua tahun menjabat sebagai wali kota, Emil bersepeda menuju Balai Kota Bandung dan tempat-tempat lainnya. Dengan bersepeda, ia memberikan contoh kepada warga Bandung untuk sama-sama menggunakan sepeda. Menurut Emil, kebiasaan bersepeda juga dapat menekan tingkat kemacetan di Bandung.

    Selain itu, aktivitas bersepeda ia lakukan sambil mengecek sejumlah fasilitas publik dan mengobrol dengan warga. "Dengan bersepeda, saya bisa dengar curhat warga secara langsung di lampu merah," ucapnya.

    PERSIANA GALIH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Para Pencari Suaka Afganistan dan Data Sejak 2008

    Para pencari suaka Afganistan telantar di depan Kementerian BUMN di Jakarta pada Juli 2019. Sejak 2008, ada puluhan ribu pencari suaka di Indonesia.