Intip Rumah Miliaran Milik Pengusaha Warteg di Kampungnya

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang warga melihat salah satu rumah megah milik pedagang warung Tegal (warteg) di Desa Sidokaton, Kecamatan Dukuhturi, Tegal, 22 Maret 2015. Rumah megah itu ditinggal pemiliknya merantau ke Jakarta dan hanya dihuni tiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. TEMPO/Dinda Leo Listy

    Seorang warga melihat salah satu rumah megah milik pedagang warung Tegal (warteg) di Desa Sidokaton, Kecamatan Dukuhturi, Tegal, 22 Maret 2015. Rumah megah itu ditinggal pemiliknya merantau ke Jakarta dan hanya dihuni tiap menjelang Hari Raya Idul Fitri. TEMPO/Dinda Leo Listy

    TEMPO.CO, Tegal - Lelaki paruh baya itu menatap curiga saat Tempo singgah di gang depan rumahnya di Desa Sidokaton, Kecamatan Dukuhturi, Kabupaten Tegal, pada Ahad petang, 22 Maret 2015. "Mau memotret ya? Anda wartawan atau pegawai bank?" tanya lelaki berkain sarung itu seraya bergegas menghampiri.

    Setelah ditunjukkan tanda pengenal, kerutan di dahinya mulai mengendur. Kendati demikian, lelaki itu sempat mencegah agar rumah-rumah mewah di sekitar rumahnya tidak difoto. Deretan rumah mewah berlantai dua dan berpagar besi tinggi di gang itu sebagian besar milik warga yang merantau ke Jakarta sebagai pedagang warteg (warung Tegal).

    "Kalau tahu pedagang warteg sukses di kampung, pemilik bangunan di Jakarta akan semakin menaikkan harga sewanya," kata lelaki yang tidak mau menyebutkan namanya itu. Warga Sidokaton yang juga bekas pedagang warteg di Jakarta, Faizin, mengatakan harga sewa bangunan untuk warteg di Jakarta saat ini mencapai Rp 25 juta-30 juta per tahun.

    "Selain karena harga sewa bangunan yang terus melambung, pedagang warteg kini juga kewalahan karena sulit mencari karyawan," kata Faizin yang juga Kepala Desa Sidapurna, Dukuhturi, Tegal. Sidokaton dan Sidapurna adalah dua desa yang bergandengan dan dikenal sebagai kampung warteg.

    Sejak tahun 70-an, warga di dua desa itu merantau ke Jakarta untuk membuka warung kecil-kecilan. "Warteg saat itu hanya menjual makanan kecil dan gorengan. Belum menyediakan nasi, sayur, dan lauknya," kata Faizin.

    Menurut Faizin, warteg mengalami masa kejayaan pada tahun 80-an sampai 90-an. Sebab, harga sewa warung dan upah karyawan saat itu masih murah. Hingga kini, dari sekitar 10 ribu warga Desa Sidapurna, 50 persennya masih menekuni usaha warteg di Jakarta. Pedagang yang tergolong sukses mendapat penghasilan kotor Rp 3 juta-5 juta per hari.

    Dengan besarnya penghasilan itu, sebagian pedagang warteg bisa membangun rumahnya di kampung. Biaya yang dihabiskan rata-rata Rp 500 juta hingga Rp 1 miliar. "Dari 2.000 rumah di Sidapurna, 500 di antaranya mewah," kata Faizin. Selain milik pedagang warteg, rumah-rumah mewah itu juga milik warga yang bekerja sebagai petani bawang merah.

    Selama ditinggal merantau, rumah-rumah mewah itu hanya ditinggali orang tua atau saudara si empunya rumah. Tidak sedikit pula rumah-rumah mewah itu dibiarkan kosong hingga rumput liar tumbuh subur di halamannya. "Sebagian kecil dari rumah-rumah mewah itu dijaminkan sertifikatnya untuk pinjaman di bank," ujar Faizin.

    Ketua Umum Pusat Koperasi Warung Tegal (Puskowarteg) Jaya, Sastoro, mengatakan pedagang warteg di Jakarta saat ini juga tertekan oleh mahalnya harga-harga kebutuhan pokok pasca-kenaikan harga bahan bakar minyak bersubsidi pada 2014. "Kami tidak bisa asal menaikkan harga menu karena pelanggan warteg itu rakyat kecil," kata Sastoro.

    Penasihat Puskowarteg Jaya, Harun Abdi Manaf, menambahkan, mahalnya harga sewa bangunan dan kebutuhan pokok di Jakarta membuat sebagian pedagang warteg kini angkat kaki dan membuka usaha di kota lain. "Sewa warung di Jakarta minimal tiga tahun, sekitar Rp 90 juta. Pedagang yang bermodal kecil tidak mampu bertahan," kata Harun.

    Menurut Harun, kota yang menjadi sasaran para pedagang warteg pindahan dari Jakarta itu meliputi Bandung, Semarang, dan Yogya. "Tarif sewa warung di Bandung dan Semarang sekitar Rp 20 juta per tahun. Harga bahan kebutuhan pokok di dua kota itu juga lebih murah 40 persen jika dibandingkan dengan Jakarta," kata Harun.

    DINDA LEO LISTY


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Penjelasan Bamsoet Terkait Aturan Kepemilikan Senjata Api 9mm

    Bamsoet meluruskan pernyataan terkait usul agar Polri memperbolehkan masyarakat memiliki senjata api 9mm untuk membela diri. Mengacu pada aturan.