Selasa, 20 November 2018

Sniper Terbaik Indonesia Tatang Koswara Wafat

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tatang Koswara (kiri) memegang senjata laras panjang saat di helikopter. Tatang Koswara yang merupakan sniper atau penembak jitu Indonesia yang diakui dunia ini wafat di usia 68 tahun, usai diundang salah satu acara televisi swasta yakni 'Hitam-Putih' pada 3 Maret 2015, malam. (foto: Dok. Pribadi)

    Tatang Koswara (kiri) memegang senjata laras panjang saat di helikopter. Tatang Koswara yang merupakan sniper atau penembak jitu Indonesia yang diakui dunia ini wafat di usia 68 tahun, usai diundang salah satu acara televisi swasta yakni 'Hitam-Putih' pada 3 Maret 2015, malam. (foto: Dok. Pribadi)

    TEMPO.CO, Jakarta - Tatang Koswara, sniper atau penembak jitu terbaik yang pernah dimiliki Indonesia, wafat pada Selasa, 3 Maret 2015 pukul 19.30. Ia meninggal setelah menjadi bintang tamu progam Hitam Putih Trans7.

    Presenter Hitam Putih, Deddy Corbuzier dalam cuitan di akun Twitternya @corbuzier menuliskan, Tatang meninggal setelah menceritakan perjuangannya sebagai sniper terbaik dunia.

    “Sebelum meninggal beliau berkata pada saya:”darahku di merah putih’ sejenak stlh itu beliau terkena serangan jantung. #hitamputihberduka.

    Di laman Detikcom yang juga mewawancarainya sebelum jatuh pingsan menuliskan, Tatang sempat berujar, “sepertinya saya jantungnya terganggu nih Pak.” Sekitar 30 menit berselang ia pingsan dan dilarikan ke RS Medistra, tak jauh dari kantor Transcorps. Ia kritis dan kemudian meninggal.

    Tatang, masuk jajaran penembak jitu terbaik di dunia. Dalam buku Sniper Training, Techniques and Weapons karya Peter Brookesmith terbitan 2000, nama Tatang masuk dalam daftar 14 besar Sniper’s Roll of Honour di dunia.

    Tatang mulai masuk militer melalui jalur tamtama di Banten pada 1966. Pada 1977 - 1978 Tatang beroperasi di Timor Timur. Di bekas provinsi Indonesia itu, lebih dari 40 orang fretilin menjadi korban tembakan jitunya.

    Meski punya ijazah Sekolah Teknik (setara SMP), Tatang melamar sebagai prajurit tamtama menggunakan ijazah SR (Sekolah Rakyat) atau Sekolah Dasar. Selang beberapa tahun ia mengikuti penyesuaian pangkat sesuai ijazah yang dimiliknya itu.

    Sebagai bintara, ia ditempatkan di Pusat Kesenjataan Infanteri (Pusenif). Di sana pula ia mendapatkan mengikuti berbagai pelatihan, mulai kualifikasi raider hingga sniper. Ia menggunakan sandi S-3 alias siluman 3.

    Suami Tati Hayati yang dinikahinya pada 1968 ini pensiun tentara pada 1994 dan menetap di Bandung.

    DANNI MUHADIANSAH


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    21 November, Hari Pohon untuk Menghormati Julius Sterling Morton

    Para aktivis lingkungan dunia memperingati Hari Pohon setiap tanggal 21 November, peringatan yang dilakukan untuk menghormati Julius Sterling Morton.