TKW Sihatul Alfiyah dan Kisah Memerah 300 Sapi  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    Ilustrasi Tenaga Kerja Indonesia (TKI). TEMPO/Marifka Wahyu Hidayat

    TEMPO.CO, Banyuwangi - Sihatul Alfiyah, tenaga kerja Indonesia yang mengalami kekerasan oleh majikannya di Taiwan lalu koma 16 bulan, meninggal pada Kamis, 15 Januari 2015. Sihatul, 25 tahun, meninggal dalam perawatan yang sedang dijalaninya di Rumah Sakit Umum Daerah Blambangan, Banyuwangi.

    “Dia sempat menganggukkan kepala beberapa kali pada saya sebelum meninggal,” kata Suhandi, 27 tahun, suami Sihatul. (Baca: Natal Emosional TKW Korban Siksa di Malaysia.)

    Sihatul pergi ke Taiwan melalui PT Sinergi Bina Karya di Malang pada Mei 2012. Sebelumnya, dia pernah bekerja di Arab Saudi. Sihatul sebenarnya tak berniat pergi ke Taiwan, tapi karena bosan menunggu di tempat penampungan tenaga kerja Indonesia di Malang, dia menyambut saja tawaran bekerja di peternakan sapi perah di Taiwan. Itu pun dia rela membayar Rp 3 juta.
     
    Namun, bayangan bekerja di tempat enak pupus. Sebab, Sihatul harus mengurus 300 ekor sapi perah seorang diri, dari memberi pakan, membersihkan kandang, hingga memerah susu. Dia harus memulai pekerjaan berat itu sejak pukul tiga dinihari hingga sepuluh malam. "Hanya istirahat sebentar di siang hari," kata Sutiah, ibu Sihatul, bercerita.

    Derita Sihatul tak berhenti di situ. Dia harus rela tidur di kamar sempit berdekatan dengan kandang sapi. Bila kerjanya lamban, majikannya akan langsung menendang atau menamparnya. Beberapa kali Sihatul berkeluh-kesah kepada ibu dan suaminya, Suhandi, yang bekerja sebagai buruh perkebunan sayur di Malaysia.

    Untuk pekerjaan yang berat itu, Sihatul mendapat upah 15 ribu dolar Taiwan. Tak ada hari libur bagi Sihatul. Bahkan dia tak bisa pergi sebentar saja ke rumah sakit untuk memeriksakan luka lebam akibat tendangan majikannya. Sihatul pernah pingsan karena kelelahan.

    Pada 22 September 2013, Sihatul melakukan komunikasi terakhir dengan Sutiah. Saat itu, seperti biasa, Sihatul kembali mengeluhkan pekerjaannya yang tak nyaman. Setelah itu, Sihatul menelepon kakaknya, Siti Emilatun, yang juga berada di Taiwan. Dia curhat tentang berbagai hal, termasuk keinginannya pulang ke Banyuwangi.

    Lama bercakap-cakap, Sihatul berjanji kepada kakaknya akan menelepon kembali setelah lewat pukul sepuluh malam waktu setempat karena akan kembali bekerja. Tapi, ditunggu beberapa jam, telepon dari sang adik tak kunjung datang. Saat ditelepon balik oleh kakaknya, ternyata telepon seluler Sihatul mati. Sekitar pukul 23.00, dia menerima kabar bahwa adiknya dilarikan ke rumah sakit karena tak sadarkan diri. 

    Awalnya dokter memvonis Sihatul terkena gagal jantung. Sejak saat itu, Sihatul mengalami koma. Sihatul sempat dirawat di Chi Mei Medical Centre di Liouying, Taiwan, sebelum dibawa pulang keluarganya ke Banyuwangi pada Mei tahun lalu.

    IKA NINGTYAS

    Terpopuler
    KPK: Jokowi, Tak Ada Jalan Lantik Budi Gunawan  
    PDIP Ngotot Budi Gunawan Dilantik, Jokowi Repot
    Bahas Budi Gunawan, KPK Bertemu Jokowi
    Kabar Kabareskrim Dicopot, Menteri Tedjo Tak Tahu


  • TKI
  •  

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tahun-Tahun Indonesia Juara Umum SEA Games

    Indonesia menjadi juara umum pada keikutsertaannya yang pertama di SEA Games 1977 di Malaysia. Belakangan, perolehan medali Indonesia merosot.