Pemuka Agama Deg-degan Doakan Korban AirAsia  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Peti jenazah korban AirAsia QZ8501 bernomor

    Peti jenazah korban AirAsia QZ8501 bernomor "30" dibawa menuju pesawat di Pangkalan Bun, Kalimantan, 3 Januari 2015. 12 Jenazah diterbangkan ke Surabaya untuk didentifikasi. REUTERS/Darren Whiteside

    TEMPO.CO, Pangkalan Bun - Imam di Gereja Pantekosta Indonesia, Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah, Sirdjon Palese, 60 tahun, mengaku sempat deg-degan saat menghadapi jenazah korban kecelakaan AirAsia QZ8501 yang pertama pada Rabu, 31 Desember 2014.

    "Saya terbayang kondisi fisiknya seperti apa. Sempat takut, saya enggak kuat melihatnya," kata Sirdjon kepada Tempo di RSUD Sultan Imanuddin, Pangkalan Bun, Kamis, 1 Januari 2014. (Baca: Senjata Ini Bikin Rusia Pede Angkat Bodi Air Asia)

    Tapi Sirdjon tak perlu berhadapan langsung dengan jenazah. Dia mendoakan korban kecelakaan AirAsia QZ8501 yang sudah selesai dibungkus dan disimpan di dalam peti. "Sebelum korban dibawa lagi ke bandar udara untuk diterbangkan ke Surabaya, saya dan teman-teman mendoakan mereka." (Baca: Masker Berlapis dan Kopi di Evakuasi Air Asia QZ8501)

    Bersama lima pemuka agama lain, yakni Katolik, Islam, Hindu, Buddha, dan Konghucu, Sirdjon bergantian menyampaikan doa di dalam ruang paviliun Akasia yang disulap jadi posko Disaster Victim Identification. "Soalnya kami enggak bisa memastikan agama korban apa. Jadi bergantian saja menurut keyakinan masing-masing." (Baca: Jonan Damprat AirAsia, Pilot Tulis 'Surat Cinta')

    Meski jenazah sudah dipetikan, Sirdjon melihat pemandangan tak mengenakkan. "Saya melihat ada cairan keluar," katanya. Gara-gara pemandangan itu, Sirdjon tak enak makan makanan berkuah, apalagi yang mengandung daging. "Selalu terbayang." (Baca: Pilot Air Asia Akan Diotopsi)

    Pengalaman lain yang dirasakan Sirdjon adalah soal aroma. Meski jenazah sudah masuk peti, tetap saja ruangan identifikasi menyisakan bau tak sedap. "Pertama kali saya pakai masker dua lapis, eh tahunya enggak ngaruh, tetap terasa di hidung," ujarnya. (Baca: Pamer Kendaraan dan Alat Canggih Pencari Air Asia)

    Seorang tenaga medis malah menyarankan Sirdjon berdoa tanpa masker. "Malah lebih enak enggak pakai masker, jadi enggak terlalu menyengat," katanya. Sejak saat itu, Sirdjon akhirnya tak pernah memakai masker saat mendoakan jenazah. "Tapi tetap saja enggak bisa lama-lama." (Baca juga: ROV, Si Robot Pencari Air Asia QZ8501)

    PRAGA UTAMA



    Topik terhangat:
    AirAsia
    | Banjir | Natal dan Tahun Baru | ISIS | Susi Pudjiastuti

    Berita terpopuler lainnya:
    Geger, Menteri Jonan Damprat Direktur Air Asia
    Korban Air Asia QZ8501 Ditemukan Duduk di Kursi
    Pengalaman KSAU Menembus Awan Cumulonimbus
    AirAsia QZ8501, 5 Fakta dan 5 Tanda Tanya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Polemik Aturan Ketenagakerjaan Dalam RUU Cipta Kerja

    Perubahan aturan ketenagakerjaan menurut pemerintah harus dilakukan agar mengundang investasi.