Senin, 19 Februari 2018

Panas-Dingin Australia dan Indonesia

Oleh :

Tempo.co

Selasa, 19 November 2013 14:01 WIB
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Panas-Dingin Australia dan Indonesia

    Massa dari Gema Mahasiswa Pembebasan menggelar unjuk rasa anti Amerika di pusat pemerintahan provinsi di Bandung (8/11). Mereka menuntut pemerintah untuk menutup Kedutaan Amerika terkait kasus penyadapan sejumlah negara termasuk Indonesia oleh intelejen Amerika. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menganggap Australia penting untuk Indonesia. Sebanyak tiga kali Presiden mengunjungi Australia pada 2005, 2007, dan 2010. Namun penyadapan Australia terhadap Presiden SBY dan Ani Yudhoyono beserta sejumlah menteri yang diungkap pertama kali oleh pembocor data intelijen, Edward Snowden, mencederai hubungan istimewa itu.

    Namun bukan kali ini saja hubungan Australia-Indonesia memanas, yang kemudian berusaha didinginkan. Sejumlah kasus kerap mencederai hubungan dua negara bertetangga beda benua ini. Berikut kasus-kasus itu.

    1. Rudal Australia
    Pemerintah Indonesia pada Agustus 2004 dibuat kecewa oleh Australia. Gara-garanya, Australia mengumumkan keputusannya membeli rudal udara ke permukaan, air to surface, senilai US$ 319. Rudal tadi dipasang pada pesawat tempur FA-18 Hornet dan pesawat patroli maritim AP-3C Orion. Rudal yang punya jangkauan tembak 400 kilometer itu mulai dipasang pada 2007-2009.

    Apalagi, pada saat bersamaan, dilakukan jajak pendapat yang hasilnya menyebutkan mayoritas warga Australia menganggap Indonesia sebagai ancaman terbesar. Indonesia pun berang. Juru bicara Departemen Luar Negeri Marty Natalegawa waktu itu sampai harus mempertanyakan langsung ke mana rudal-rudal tadi akan diarahkan. Keberadaan rudal itu dinilai memudahkan Australia menyerang kedaulatan Indonesia.

    Pada 9 September 2004, terjadi peristiwa bom di Kedutaan Besar Australia di Indonesia. Hubungan Indonesia-Australia pun kembali membaik. Pemerintah Australia waktu itu mempunyai kepentingan membantu mengungkap dalang peledakan bom.


    2. Kunjungan Pertama SBY
    Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pergi ke Australia pada 4 April 2005. Ini merupakan kunjungan pertamanya sejak dilantik sebagai Presiden pada 2004. Kunjungan ini sempat tertunda karena gempa Nias. SBY pun akhirnya bertemu pemerintahan Australia.

    Kedua pimpinan negara sepakat, di antaranya, mengenai pakta nonagresi dan tak menggunakan kekuatan militer atau secara damai dalam menyelesaikan setiap perselisihan. Pertemuan ini semakin memperbaiki hubungan Australia-Indonesia kala itu.


    3. Kasus Schapelle Leigh Corby
    Kasus penyelundupan mariyuana oleh warga negara Australia, Corby, kembali memanaskan hubungan Indonesia sebulah setelah kedatangan Presiden SBY di Australia. Pada 27 Mei 2005, pemerintah Indonesia dikecam karena pengadilan Indonesia memvonis Corby dengan 20 tahun penjara.

    KBRI dan Konjen Indonesia di Australia sampai mendapatkan teror. Puncaknya, ketika KBRI di Canberra mendapatkan kiriman berisi bakteri berbahaya yang diduga antraks. Ancaman kali ini ditanggapi lebih serius dengan mengisolasi seluruh staf.

    Australia pun mendekati Indonesia untuk membatalkan hukumam Corby. Pada 9 Juni 2005, delapan anggota parlemen Australia dari Partai Liberal, Partai Buruh, dan senator dari Partai Demokrat didampingi Duta Besar Australia David Ritchie bertemu Menteri Luar Negeri Hasan Wirayuda. Dalam pembicaraannya dibahas tentang pertukaran narapidana. Namun Australia menampik kasus Corby sebagai acuan pertukaran tahanan. Ada hubungannya atau tidak beberapa bulan kemudian, 12 Oktober 2005, Pengadilan Tinggi Denpasar mengurangi hukuman Corby menjadi 15 tahun penjara.

    Lima tahun kemudian, tepatnya 18 Desember 2010, kasus Corby kembali dimainkan Australia. Pengadilan federal Australia mengeluarkan putusan yang merugikan Indonesia. Dalam putusannya, Australia memerintahkan Menteri Kehakiman Australia menunda penyerahan buron Andrian Kiki Iriawan serta asetnya untuk batas waktu yang tidak ditentukan. Adrian terlibat BLBI Bank Surya yang merugikan negara Rp 1,9 triliun.

    Setahun kemudian, Australia mencoba dengan cara lain. Jaksa Agung RI dan Menteri Hukum dan HAM mendapatkan usulan pertukaran narapidana. Australia menghendaki pembebasan Schapelle Leigh Corby ditukar dengan 5.000 narapidana warga negara Indonesia di Australia.

    4. Presiden SBY Datang ke Australia Lagi
    Ini adalah kunjungan yang tak biasa. Kunjungan pada 8 Maret 2010 itu berbeda lantaran Presiden SBY diundang untuk berpidato di hadapan parlemen Australia. Hanya ada dua pemimpin negara yang pernah pidato di hadapan parlemen Australia. Keduanya adalah Presiden Amerika Serikat George W. Bush dan pemimpin Cina, Hu Juntao.

    5. Penyadapan
    Hubungan Indonesia-Australia kembali memanas. Awalnya pada 19 November 2013, harian ABC dan Guardian Australia memuat dokumen yang menyebut intelijen Australia menyadap telepon milik Presiden SBY dan sembilan orang lainnya, termasuk Ani Yudhoyono. Penyadapan berlangsung selama 15 hari pada Agustus 2009. Perdana Menteri Australia Tony Abbott sendiri hanya menganggapnya sebagai hal biasa. "Semua pemerintah mengumpulkan informasi dan semua pemerintah tahu bahwa setiap pemerintah lainnya juga mengumpulkan informasi," katanya, seperti dikutip dari The Queensland Times.

    Namun penyadapan ini ditanggapi serius oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut SBY, penyadapan yang diduga dilakukan oleh Australia mencederai kemitraan strategis dengan Indonesia. SBY menyayangkan pernyataan Perdana Menteri Australia Tony Abbot yang dinilai menganggap remeh penyadapan terhadap Indonesia, "Tanpa rasa bersalah," seru presiden.

    EVAN | PDAT


     

     

    Selengkapnya
    Grafis

    JR Saragih dan 4 Calon Kepala Daerah Terganjal Ijazah dan Korupsi

    JR Saragih dicoret dari daftar peserta pemilihan gubernur Sumut oleh KPU karena masalah ijazah, tiga calon lain tersandung dugaan korupsi.