Kamis, 21 Juni 2018

Ruh Lekra di Taring Padi

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Sampul majalah TEMPO edisi khusus Lekra.

    Sampul majalah TEMPO edisi khusus Lekra.

    TEMPO.CO, Jakarta - Terinspirasi oleh semangat Lekra, sejumlah mahasiswa Fakultas Seni Rupa Institut Seni Indonesia mengagas pembentukan kelompok seni Taring Padi pada akhir 1998, setelah pemerintahan Soeharto tumbang. Mereka ingin menyuntikkan kembali nafas "kebudayaan rakyat" yang sempat disumbat sepanjang Orde Baru berkuasa. "Rakyat menginspirasi kami untuk berkarya," kata Muhammad Yusuf, salah seorang pendiri Taring Padi, September lalu.

    Nama Taring Padi dicomot dari frase Minang yang berarti 'duri lembut pada ujung bulir gabah.' Meski kecil, jika mengenai tubuh, duri itu bisa menyebabkan gatal-gatal. Padi juga mengilustrasikan petani yang menjadi simbolisasi rakyat. Filosofi mereka jelas: seni bukan barang elite yang hanya bisa dinikmati di ruang-ruang galeri, tapi karya yang membumi dan melibatkan rakyat. Karena itu, seni terutama harus kritis, bukan sekedar keindahan.

    Prinsip dan pola gerakan Taring Padi memang mirip Lekra, terutama Bumi Tarung--sanggar seni rupa yang berada di bawah Lekra. Mereka menolak konsep seni untuk seni karena dianggap hanya akan menjauhkan seniman dari rakyat. Konsep seni untuk rakyat ini, misalnya, mereka terapkan saat menggelar Festival Memedi Sawah di Desa Delanggu, Klaten, pada 1999. Mereka mengarak orang-orangan sawah bertuliskan "Emoh Bahan Kimia" serta memasang poster besar bertuliskan "Rebut Kembali Hak Rakyat Atas Pengembangan Kebudayaan Rakyat".
    Selanjutnya..

    Sekilas prinsip dan pola kerja mereka identik dengan Lembaga Kesenian Rakyat atau Lekra yang diberangus pemerintah Orde Baru sejak 1965. Karya seni rupa mereka mirip karya-karya perupa Sanggar Bumi Tarung, yang merupakan sanggar perupa di bawah naungan Lekra.

    Dalam proses berkarya, mereka juga menerapkan konsep turba, istilah yang digunakan Lekra untuk blusukan ke masyarakat sebelum mereka menciptakan karya seni. Dalam Taring Padi, istilah itu diganti menjadi Live In. Meski begitum Yustoni Volunteero, pendiri Taring Padi lainnya, menolak disebut sebagai pewaris Lekra. "Kami independen," katanya. (Baca selengkapnya di Majalah Tempo edisi 30 September 2013)

    Amrus Natalsya, pendiri Bumi Tarung, mengakui adanya kemiripan itu. Namun, ia membantah adanya hubungan antara Lekra atau Bumi Tarung dengan dengan Taring Padi. "Tidak ada hubungan apa-apa," katanya. Menurut Amrus, seni Taring Padi lebih radikal dibanding Bumi Tarung. "Seni mereka terlalu menonjolkan ideologi, tetapi lemah di artistik. Sedangkan karya Lekra mengharuskan dua-duanya, tinggi ideologi dan sekaligus tinggi artistik."

    TIM TEMPO


    Topik terhangat:

    Edsus Lekra | Senjata Penembak Polisi | Mobil Murah | Info Haji

    Berita lainnya:
    Megawati: Mbok Jangan Terlalu Tegang Dik Jokowi 
    Jusuf Kalla Dukung Lurah Susan 
    Mega: Gaji Pak Jokowi dan Ganjar Berapa? 
    Pesawat Buatan Habibie Diluncurkan 2016
    Megawati Isengi Sultan Yogya dengan Gigi Palsu


     

     

    Lihat Juga


    Selengkapnya
    Grafis

    Atlet Penanggung Beban Paling Besar di Piala Dunia 2018

    Lembaga CIES Football Observatory membandingkan angka transfer pemain bola top dengan nilai tim negaranya di Piala Dunia 2018. Ini temuan mereka.