Biptu Rani, Bukti Polri Belum Optimalkan Polwan

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Briptu Rani Indrayuni Nugraeni, yang populer dengan nama Briptu Rani anggota Polres Mojokerto yang diberhentikan dari kepolisian, saat berbincang di sebuah kafe di kawasan Plasa Tunjungan 2 Surabaya (31/7). TEMPO/Fully Syafi

    Briptu Rani Indrayuni Nugraeni, yang populer dengan nama Briptu Rani anggota Polres Mojokerto yang diberhentikan dari kepolisian, saat berbincang di sebuah kafe di kawasan Plasa Tunjungan 2 Surabaya (31/7). TEMPO/Fully Syafi

    TEMPO.CO, Jakarta - Kasus yang menimpa Briptu Rani memang bukan satu-satunya kasus yang sempat mencoreng nama polwan sebagai bagian dari Kepolisian Republik Indonesia. Kriminolog Indonesia, Adrianus Meliala, menuturkan bahwa setidaknya ada beberapa hal yang menjadi penyebab mengapa tindak pelecehan terhadap polwan bisa terjadi.

    “Pertama, yang jelas itu adalah kasus. Kedua, kejadian ini mengindikasikan bahwa Polri belum memperlakukan polwan secara optimal,” tutur anggota Komisi Kepolisian Nasional ini,  saat dihubungi Tempo melalui telepon, Jumat malam, 30 Agustus 2013. Dengan demikian, menurut dia, sampai saat ini masih ada pihak polki (polisi laki-laki) yang melihat polwan itu bukan sebagai rekan kerjanya. (baca: Perwira Polwan Yakin Briptu Rani Hanya Oknum)

    “Masih ada polisi yang melihat perempuan, alih-alih sebagai partner kerja, malah menganggapnya hanya sebagai teman,” ia menambahkan.

    Di samping itu, Adrianus menambahkan bahwa budaya laki-laki memang sangat kuat di kepolisian, termasuk masih adanya anggapan bahwa perempuan itu lemah. (Baca: Briptu Rani: Keramahan Saya Disalahartikan)

    Melihat dari sisi polwannya, Adrianus menilai bahwa ada polwan yang tampaknya memang tidak sanggup menunjukkan kemampuannya di antara para polisi laki-laki. (Baca: Curhat Briptu Rani Setelah Dipecat Jadi Polwan)

    “Ada juga yang tidak sanggup bertahan pada kemampuan otak, kemampuan lainnya, dan akhirnya mulai menggunakan kemampuan ‘kewanitaannya’,” kata pria yang mendapatkan gelar PhD untuk bidang kriminologi di The University of Queensland, Brisbane, Australia, ini.

    Ia kembali melanjutkan bahwa hal tersebut pada akhirnya membuat perempuan menurunkan dirinya sebagai rekan kerja. Dengan demikian, perempuan terlihat lebih lemah sehingga akhirnya bisa terjadi hal yang lebih ekstrem, misalnya timbul pelecehan seperti yang dialami oleh Briptu Rani. (Baca lengkap: Polwan Jelita)

    AISHA


    Topik Terhangat
    Polwan Jelita
    | Lurah Lenteng | Rupiah Loyo | Konvensi Demokrat | Suap SKK Migas


    Berita Terpopuler:
    Briptu Rani: Keramahan Saya Disalahartikan
    Jusuf Kalla: Jokowi Harus Nyapres

    Sengman Pernah Hadir ke Wisuda Anak SBY?

    Relokasi Blok G Cepat, Jokowi Tungguin Tukang Cat

    Disebut Terkait Impor Sapi, Dipo Alam Berkelit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pro Kontra Kemendikbud Menerapkan Zonasi Sekolah pada PPDB 2019

    Zonasi sekolah di PPDB yang diterapkan Kemendikbud memicu pro dan kontra. Banyak orang tua menganggap sistem ini tak adil dan merugikan calon siswa