Minggu, 18 November 2018

Lian Gogali, Perempuan di Garis Depan Poso  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pendiri sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik di Poso, Lian Gogali (tengah) saat diskusi bersama ibu-ibu di pantai Imbo, Kelurahan Madale, Kecamatan Poso Utara, Sulawesi tengah, (24/7). Tempo/Aditia Noviansyah

    Pendiri sekolah perempuan untuk ibu-ibu korban konflik di Poso, Lian Gogali (tengah) saat diskusi bersama ibu-ibu di pantai Imbo, Kelurahan Madale, Kecamatan Poso Utara, Sulawesi tengah, (24/7). Tempo/Aditia Noviansyah

    TEMPO.CO, Jakarta - Mendengar nama Poso, stigma konflik agama bagai tak pernah lenyap di kabupaten dengan luas hanya sepersembilan Jakarta ini. Isu sebagai sarang teroris ikut memperburuk citra Poso. Deklarasi Malino, yang digaungkan pada pengujung 2001, tak mampu mencegah letupan-letupan kecil-besar. Tapi, Lian Gogali, 35 tahun, tak gentar berada di garis depan menjadi agen perdamaian Muslim-Kristen.

    Adalah Lian, perempuan kelahiran 24 April 1978 ini, merekatkan kembali hubungan Muslim-Kristen dengan mendirikan Sekolah Perempuan Mosintuwu. Mosintuwu dalam bahasa Pamona, nama kecamatan di Poso, berarti kebersamaan. Sekolah informal ini hanya diikuti kaum Hawa, yang memiliki cita-cita luhur perdamaian antarwarga. Bukan cuma di Mosintuwu, sekolah tersebut juga dibuka di lima tempat di Poso, yang 15 tahun didera konflik.

    Lian sebenarnya juga bagian dari korban konflik Poso. Ketika kekerasan di Poso pecah dan membakar rumahnya, Lian tengah menempuh pendidikan sarjana di Universitas Kristen Duta Wacana, Yogyakarta. Akibatnya, kecamuk pada 1997 itu membuat kiriman uang dari Poso macet total. “Saya pernah menjadi pembantu rumah tangga,” kata Lian, yang memiliki gelar S-1 Fakultas Teologi Universitas Kristen Duta Wacana dan S-2 Fakultas Budaya dan Agama Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.

    Saat ditemui Tempo, sekitar tiga pekan lalu, Lian tengah berdiskusi dengan para ibu korban konflik Poso di hamparan pasir putih Pantai Imbo, Kecamatan Poso Kota, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah. Empat belas perempuan murid Lian berkerumun. Sebagian berkerudung, lainnya hanya berkaus. Sebagian muslim, lainnya Nasrani. Berkali-kali tawa mereka memecah keheningan pantai tempat sopir angkot bernama Imbo tewas tertembak pada 2004 lalu.

    Hingga kini, sebanyak 158 perempuan lulusan Mosintuwu telah berbaur. Tak ada konflik Muslim-Kristen di antara mereka. “Torang (kita orang) bersaudara,” kata Evi Tampakatu, 36 tahun, asal Kelurahan Tegalrejo, Poso Kota Utara.

    Namun, bukan tanpa tantangan Lian mewujudkan impiannya melihat perdamaian. Dalam membangun Mosintuwu, Lian sempat dihadang banyak masalah. Misalnya, pernah didatangi para pria yang mengaku sebagai suami dari wanita yang aktif di Sekolah Perempuan. Mereka ada yang mengancam akan menceraikan istrinya.

    Sebenarnya di Poso cukup banyak lembaga yang berperan menjembatani perdamaian. Namun lembaga-lembaga itu timbul-tenggelam karena tidak terurus. Kelemahan inilah yang kemudian mendorong Lian serius menjadi agen perdamaian di tanah kelahirannya. Perjuangannya membuahkan penghargaan Coexist Prize dari Yayasan Coexist asal Amerika Serikat. Dia mendapatkan penghargaan untuk pengembangan dialog serta perdamaian antar-agama dan keyakinan.

    Banyak tokoh di Poso memuji konsistensi Lian. Salah satunya Abdul Kadir Abdjul, Wakil Ketua Himpunan Pemuda Alkhairaat Kabupaten Poso. “Dia istikamah dengan kegiatannya,” kata Abdul Kadir.

    STEFANUS TEGUH EDI PRAMONO

    Berita Lainnya:
    Bumi Akan Dihujani Debu Kosmik Selama 3 Bulan
    Pidato SBY Dinilai 'Menjerumuskan' IHSG
    Suap Rudi Kiriman Singapura? Simon Tersenyum
    Ditanyai Soal Konvensi, Sri Mulyani Senyum-senyum
    PKL Patuhi Jokowi karena Sama-sama Jawa
    Ahok: Jakarta Lebih Cocok untuk Jasa-Perdagangan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.