Polisi Diduga Tahu Tama Jadi Target Korban Penganiayaan  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Dari Kiri: Danang Widoyoko (ICW), Haris Azhar (Kontras) dan Nurkholis Hidayat (LBH) saat memberikan keterangan kepada wartawan hasil investigasi kasus Tama Satriya langkun dikantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Jakarta, Rabu (21/7). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    Dari Kiri: Danang Widoyoko (ICW), Haris Azhar (Kontras) dan Nurkholis Hidayat (LBH) saat memberikan keterangan kepada wartawan hasil investigasi kasus Tama Satriya langkun dikantor Komisi Untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras), Jakarta, Rabu (21/7). TEMPO/Eko Siswono Toyudho

    TEMPO Interaktif, Jakarta - Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta menyebut polisi sebenarnya telah mengetahui aktivis Indonesia Corruption Watch, Tama Satriya Langkun, berpotensi jadi korban penganiayaan.

    Berdasarkan investigasi bersama LBH, Komite untuk Orang Hilang dan Korban Kekerasan (Kontras), dan Indonesia Corruption Watch, pada malam sebelum penganiayaan, seorang polisi berpangkat Ajun Komisaris Besar bernama Suparmono sempat memperingatkan Tama soal kegelisahan polisi terhadap laporan ICW tentang rekening gendut.

    “Jika ada yang terjadi hubungi saya,” kata Direktur LBH Jakarta Nurkholis Hidayat menirukan ucapan Suparmono, saat menyampaikan hasil investigasi kasus Tama di kantor Kontras, Jakarta, Rabu (21/7).

    Menurut Nurkholis, Suparmono adalah anggota polisi dari Polda Metro Jaya, yang dikenalkan Hendra, teman kuliah Tama di Universitas Jayabaya, pada 5 Juli, atau tiga hari sebelum penganiayaan.

    Suparmono, kata Nurkholis, memperingatkan Tama dengan menemuinya di kantor ICW di bilangan Kalibata, Jakarta. Sekitar pukul 21.00, perwira itu datang bersama Hendra, seseorang bernama Edi, dan seorang anak buahnya. Mereka bertamu ke ICW khusus bertemu Tama, sehingga tak ada satu pun aktivis ICW mendampingi.

    Nurkholis melanjutkan, Suparmono menyampaikan bahwa laporan ICW soal rekening gendut menggelisahkan polisi di tingkat bawah. Kepada Tama, Suparmono juga menyampaikan bahwa polisi ingin menjalin hubungan baik dengan ICW. “AKBP S bahkan sempat menawari bantuan keamanan kepada Tama,” ujarnya.

    Setelah tamunya pergi, Tama akhirnya berangkat ke Kemang, menyusul rekan-rekannya untuk menonton Piala Dunia 2010. Sepulang dari Kemang itulah Tama dianiaya di kawasan Duren Tiga oleh empat orang tak dikenal.

    ANTON SEPTIAN

     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Eliud Kipchoge Tak Pecahkan Rekor Dunia Marathon di Ineos 1:59

    Walau Eliud Kipchoge menjadi manusia pertama yang menempuh marathon kurang dari dua jam pada 12 Oktober 2019, ia tak pecahkan rekor dunia. Alasannya?