Infotainment Bukan Karya Jurnalistik

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Prih Prawesti

    TEMPO/Prih Prawesti

    TEMPO Interaktif, Jakarta -  Doktor Komunikasi Massa Lulusan Universitas Indonesia Muharnetti Syas menegaskan tayangan infotainment bukan karya jurnalistik.  “Karena tidak memenuhi semua kriteria yang ditentukan sebagai produk jurnalistik,” ujarnya usai menjalani sidang terbuka di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Indonesia, Depok, Selasa (13/07).

    Dosen di Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP) ini menyatakan,  untuk sampai pada kesimpulan tersebut, ia telah melakukan observasi terhadap pekerja infotainment. Ia melihat mulai dari proses liputan, wawancara, dan kemudian kembali ke kantor untuk memproduksi hasil liputan tidak dilakukan sesaui dengan koridor jurnalistik. “Produk infotainment melanggar kode etik jurnalistik dan Pedoman Prilaku Penyiaran dan Standar Program Siaran (P3SPS),” katanya.

    Menurut dia, program infotainment umumnya bukan sesuatu yang berdasarakan fakta, tetapi lebih cenderung berdasarkan gossip yang tidak sesaui dengan kebenaran. Privasi narasumber sering dilanggar guna mendapatkan berita. Narasi yang dibangun dalam tayangan tersebut seringkali menyudutkan, bahkan tidak jarang hanya opini para praktisi infotainment dan bukan fakta.

    Beritannya, kata Muharnetti, dinilai sebagai sesuatu yang bukan merupakan kebutuhan masyarakat bahkan cenderung tidak bermanfaat. Keberadaan infotainment dianggap hanya bersifat hiburan.  "Karena infotainment dinilai sebagai bukan karya jurnalistik, maka pekerjanya pun juga tidak pas jika disebut wartawan," katanya.

    Mulharnetti bahkan menyebut pekerja infotainment sebagai praktisi. Karena dalam melakukan liputannya,  seringkali praktisi infotainment tidak melakukan verifikasi atau wawancara dengan narasumber. Ia mencontohkan, ada beberapa kabar yang belum dikonfirmasi kebenarannya dengan narasumber, tetapi sudah sudah ditayangkan dengan narasi yang dikarang-karang.

    “Ada tayangan yang belum wawancara sama artis, sudah ditayangkan. Lalu mereka mengawali narasi dengan kata-kata seperti, ‘isunya’, ‘gosipnya’. Padahal kalau jurnalistik kan tidak boleh seperti itu,” kata ibu dua putera ini.

    TIA HAPSARI


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Cara Merawat Lidah Mertua, Tanaman Hias yang Sedang Digemari

    Saat ini banyak orang yang sedang hobi memelihara tanaman hias. Termasuk tanaman Lidah Mertua. Bagai cara merawatnya?