Kata Pengamat soal Adanya Transaksi di Rekening Brigadir J Setelah Meninggal

Mantan Kepala Divisi Propam Polri, Ferdy Sambo, setelah sidang terdakwa pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan, Selasa, 22 November 2022 [Tempo/Eka Yudha Saputra]

TEMPO.CO, Jakarta - Pengamat hukum Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU), Yenti Garnasih memberikan tanggapan mengenai adanya dugaan pelanggaran baru yang dilakukan terdakwa pembunuhan Nofriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J. Pelanggaran tersebut adalah adanya bukti transfer atas nama Yosua 3 hari setelah meninggal.

"Ada transaksi dari seseorang yang sudah meninggal, tapi yang mentransaksikan bukan keluarga. Itu ada masalah yang satu masalah perbankannya," kata Yenti saat dihubungi Selasa 22 November 2022.

Yenti menjelaskan bahwa ketika seseorang telah meninggal, rekening harus diberikan kepada ahli waris yakni keluarga.

Perbankan, menurut Yenti, dalam hal ini gagap karena tidak bisa mengantisipasi hal ini. Hal tersebut dikarenakan saat ini transaksi sudah bisa dilakukan secara online atau e-banking.

"Mekanismenya bank sendiri kalau ada nasabah meninggal uang-uang harus diberikan ke ahli waris. Nah sekarang OJK atau Bank Indonesia bagaimana nih antisipasinya kalau begini tahu dari mana kalau meninggal," ujar Yenti.

Yenti menjelaskan bahwa harta kekayaan orang yang sudah meninggal itu harus dilindungi karena haknya ahli waris. Perbankan harus bisa mengungkap karena SDMnya banyak dan dibayar mahal oleh negara. "Kerja dong yang teliti termasuk semua kemungkinan yang bisa diprediksi," tambahnya.

Dugaan TPPU yang menjerat Ferdy Sambo cs, menurut Yenti, bisa mengungkap hal-hal lain. Oleh karena itu, penyidik dalam hal ini semestinya tak hanya fokus pada pembunuhan berencana saja. Bisa jadi, kata dia, ada latar belakang keuangan yang mengakibatkan pembunuhan.

"Ini kan mempunyai beberapa rekening kalau di TPPU itu namanya rekening yang mencurigakan, rekeningnya aja mencurigakan apalagi transaksinya," kata dia. 

Kejahatan ini, menurut Yenti, biasa berdasar adanya relasi kuasa. Uang kejahatan dari pelaku biasanya dialirkan ke orang-orang yang berada di bawahnya. Pada beberapa kasus yang ditemui, Yenti menjelaskan uang tersebut biasa mengalir ajudan hingga cleaning service.

Relasi kuasa ini merupakan kata kunci dari beberapa kasus TPPU. Para anak buah ini biasanya takut karena posisi dan juga karena sudah mendapat bagian uang tersebut.

"Masalahnya itu kan anak buah itu takut karena posisi atau karena juga sering sudah dapat bagi-bagi. Seringkali yang saya temukan di pengadilan dan di BAP, hasil kejahatan itu begitu," tambahnya.

Rekening ajudan Ferdy Sambo harus dibuka

Guna mengantisipasi ini, Yenti menjelaskan semua rekening dari ajudan Ferdy Sambo harus dibuka. Semua harus dibuka agar tidak menimbulkan pertanyaan publik.

"Rp 200 juta untuk Yosua itu unusual sebagai kata kunci TPPU. Karena memang jumlah itu adalah unusual transaction. Itu kan Rp 200 juta untuk belanja harian di rumah Magelang, apalagi itu rumah ketiga. Bayangkan rumah pribadinya berapa padahal gajinya berapa," ucapnya. 

Selanjutnya: kemungkinan bisa ungkap kejahatan lain...






Komitmen Bersih-bersih Polri dari Mafia Tambang, Kapolri: Dimulai dari Kasus Ismail Bolong

22 menit lalu

Komitmen Bersih-bersih Polri dari Mafia Tambang, Kapolri: Dimulai dari Kasus Ismail Bolong

Kapolri menyebut Ismail Bolong merupakan titik awal bagi Polri untuk menyelidiki aktivitas suap tambang di tubuh kepolisian.


Saldo di Rekening Brigadir J Disebut-sebut Mencapai Rp 100 Triliun, PPATK: Itu Hoaks

1 jam lalu

Saldo di Rekening Brigadir J Disebut-sebut Mencapai Rp 100 Triliun, PPATK: Itu Hoaks

PPATK mengkonfirmasi bahwa kabar soal rekening Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat alias Brigadir J mencapai Rp 100 triliun tidak benar.


Kasus Ismail Bolong, Kapolri Tegaskan Akan Telusuri Dugaan Aliran Dana ke Bawahannya

2 jam lalu

Kasus Ismail Bolong, Kapolri Tegaskan Akan Telusuri Dugaan Aliran Dana ke Bawahannya

Kapolri menegaskan akan menelusuri dugaan aliran dana Ismail Bolong ke sejumlah bawahannya.


Beredar Kabar Saldo di Rekening Brigadir J Tembus Rp 100 Triliun, Ini Penjelasan Lengkap BNI

5 jam lalu

Beredar Kabar Saldo di Rekening Brigadir J Tembus Rp 100 Triliun, Ini Penjelasan Lengkap BNI

BNI merespons kabar saldo rekening Brigadir Nopriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J yang hampir mencapai angka Rp 100 triliun.


Kabareskrim Agus Andrianto Mengaku Merasa Aneh dengan Kasus Ismail Bolong

1 hari lalu

Kabareskrim Agus Andrianto Mengaku Merasa Aneh dengan Kasus Ismail Bolong

Nama Kabareskrim Komjen Agus Andrianto terseret dugaan suap tambang ilegal Ismail Bolong. Pernah diselidiki Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan.


Kabareskrim Agus Andrianto: Tanya Jajaran Kelakuan Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan

1 hari lalu

Kabareskrim Agus Andrianto: Tanya Jajaran Kelakuan Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan

Agus Andrianto mempertanyakan kenapa Ferdy Sambo melepas Ismail Bolong jika memang tuduhan dirinya menerima setoran tambang ilegal benar.


Soal Ismail Bolong, Kabareskrim Singgung Ferdy Sambo dan Hendra: Kasus Brigadir Yosua Saja Mereka Tutupi

1 hari lalu

Soal Ismail Bolong, Kabareskrim Singgung Ferdy Sambo dan Hendra: Kasus Brigadir Yosua Saja Mereka Tutupi

Kabareskrim Komjen Agus Andrianto menyinggung Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan yang menutup-nutupi kasus Brigadir Yosua.


Namanya Terseret Kasus Ismail Bolong, Kabareskrim: Kenapa Dilepas Ferdy Sambo Cs Kalau itu Benar

1 hari lalu

Namanya Terseret Kasus Ismail Bolong, Kabareskrim: Kenapa Dilepas Ferdy Sambo Cs Kalau itu Benar

Kabareskrim Komjen Agus Andrianto heran namanya diseret dalam kasus Ismail Bolong. Dia pun bertanya kenapa Propam lepaskan Ismail.


Nyanyian Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan Soal Kasus Ismail Bolong

1 hari lalu

Nyanyian Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan Soal Kasus Ismail Bolong

Ferdy Sambo dan Hendra Kurniawan akhirnya buka suara soal dugaan setoran tambang batu bara ilegal yang diungkap Ismail Bolong ke pejabat tinggi Polri.


Baiquni Wibowo Minta Istrinya Serahkan Salinan Rekaman DVR CCTV ke Penyidik

1 hari lalu

Baiquni Wibowo Minta Istrinya Serahkan Salinan Rekaman DVR CCTV ke Penyidik

Dalam surat dakwaan yang dibacakan jaksa penuntut umum, Baiquni Wibowo sempat menyalin file rekaman DVR CCTV di gapura pos pengamanan.