Buya Hamka Selesaikan Tafsir Al-Azhar 30 Jilid Selama 2 Tahun Dipenjara Orde Lama

Buya Hamka, Jakarta, 1981. Dok.TEMPO/Ed Zoelverdi

TEMPO.CO, Jakarta - Haji Abdul Malik Karim Amrullah atau lebih dikenal dengan nama Buya Hamka meninggal dunia di Jakarta dalam usia 73 tahun pada 24 Juni 1981. Buya Hamka adalah seorang ulama, sastrawan, sekaligus tokoh politik Indonesia. Selama hidupnya, Buya Hamka sempat melahirkan beberapa karya sastra, yang terlaris adalah Di Bawah Lindungan Kabah dan Tenggelamnya Kapal van der Wijck.

Buya Hamka lahir di Tanah Sirah wilayah Nagari Sungai Batang, Kabupaten Agam, Sumatera Barat pada 17 Februari 1908. Dia adalah putra sulung Abdul Karim Amrullah dan Safiyah. Pada 1924, saat usianya baru 16 tahun, Buya Hamka telah merantau ke Yogyakarta. Di sana Buya Hamka mulai belajar mengenai sejarah dan pergerakan Islam. Setelah merantau, ia kembali ke Padang Panjang membesarkan Muhammadiyah.

Keinginan Buya Hamka pergi ke Mekah terlecut ketika ditolak sebagai guru di sekolah milik Muhammadiyah. Ia ditolak lantaran tak memiliki diploma, dan dikritik atas kemampuan berbahasa Arabnya, dikutip dari pustaka.isi-padangpanjang.ac.id. Kemudian berangkatlah ia ke Mekkah. Dengan bahasa Arab yang dipelajarinya, Buya Hamka mendalami sejarah Islam dan sastra secara otodidak.

Kembali ke Tanah Air, Buya Hamka merintis karier sebagai wartawan sambil bekerja sebagai guru agama di Deli. Setelah menikah, ia kembali ke Medan dan menerbitkan majalah Pedoman Masyarakat. Lewat berbagai karyanya, Buya Hamka melambung sebagai sastrawan.

Selama revolusi fisik Indonesia, untuk menggalang persatuan menentang kembalinya Belanda, Buya Hamka bergerilya di Sumatra Barat bersama Barisan Pengawal Nagari dan Kota (BPNK). Pada 1950, Hamka membawa keluarganya ke Jakarta. Awalnya ia mendapat pekerjaan di Departemen Agama, tapi mengundurkan diri lantaran terjun di jalur politik. Dalam pemilihan umum 1955, Hamka terpilih dan duduk di Konstituante mewakili Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia atau Masyumi. Buya Hamka terlibat dalam perumusan kembali dasar negara.

Sikap politik Partai Masyumi yang menentang komunisme dan anti-Demokrasi Terpimpin memengaruhi hubungan Buya Hamka dengan Presiden Soekarno. Usai Partai Masyumi dibubarkan sesuai Dekret Presiden 5 Juli 1959, Hamka menerbitkan majalah Panji Masyarakat. Namun majalah itu berumur pendek, karena dibredel oleh Soekarno. Pembredelan dilakukan setelah Panji Masyarakat menerbitkan tulisan Mohammad Hatta, yang telah mengundurkan diri sebagai wakil presiden, berjudul “Demokrasi Kita”.

Buya Hamka Dipenjara Era Soekarno

Seiring meluasnya paham komunisme di Indonesia, Hamka diserang oleh organisasi kebudayaan Lekra. Tuduhan melakukan gerakan subversif membuat Buya Hamka diciduk dari rumahnya ke tahanan Sukabumi pada 1964. Partai Masyumi juga turut dibubarkan. Dalam keadaan sakit sebagai tahanan, ia sempat merampungkan tulisanTafsir Al-Azhar yang berjumlah 30 jilid. Menjelang berakhirnya kekuasaan Soekarno, Buya Hamka dibebaskan pada Mei 1966.

Pada masa Orde Baru Soeharto, Buya Hamka mencurahkan waktunya membangun kegiatan dakwah di Masjid Agung Al-Azhar serta berceramah di Radio Republik Indonesia (RRI) dan Televisi Republik Indonesia (TVRI). Ketika pemerintah menjajaki pembentukan Majelis Ulama Indonesia (MUI) pada 1975, peserta musyawarah memilih dirinya secara aklamasi sebagai ketua. Namun, Buya Hamka memilih mundur pada 19 Mei 1981. Ia mendapat tekanan dari Menteri Agama Alamsjah Ratoe Perwiranegara untuk menarik fatwa haram MUI atas perayaan Natal bersama bagi umat Muslim.

Universitas al-Azhar dan Universitas Nasional Malaysia menganugerahi Buya Hamka gelar doktor kehormatan. Sementara Universitas Moestopo, Jakarta, mengukuhkan dirinya sebagai guru besar. Namanya disematkan untuk Universitas Hamka milik Muhammadiyah serta masuk dalam daftar Pahlawan Nasional Indonesia.

Buya Hamka meninggalkan tak kurang dari 94 karya buku dengan beragam tema. Mulai dari sastra, agama, sejarah dan filsafat. Di antaranya Lembaga Hidup, Falsafah Hidup, Tasawuf Modern, Merantau ke Deli, Di Bawah Lindungan Ka’bah, Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck . Masyarakat mengenal Buya Hamka sebagai seorang sastrawan dan ulama terkemuka di Nusantara.

HENDRIK KHOIRUL MUHID

Baca: Kisah Soekarno Minta Buya Hamka Menyalatkan Jenazahnya

Ikuti berita terkini dari Tempo di Google News, klik di sini.






Pembunuh Wartawan Daphne Caruana Galizia Bakal Seret Nama Lain

21 jam lalu

Pembunuh Wartawan Daphne Caruana Galizia Bakal Seret Nama Lain

Pembunuh Daphne Caruana Galizia, wartawan investigasi dari Malta, mengancam akan menyebut nama lain dalam rencana pembunuhan ini.


Kota Bogor Ajak Fasilitasi Warga Muhammadiyah Salat Idul Adha Sabtu

23 jam lalu

Kota Bogor Ajak Fasilitasi Warga Muhammadiyah Salat Idul Adha Sabtu

Pemerintah Kota Bogor mengajak masyarakat menghormati perbedaan penetapan Hari Raya Idul Adha 1443 Hijriah antara organisasi Muhammadiyah.


Ibunda Tersangka Pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta Menangis Minta Anaknya Tak Dipenjara

1 hari lalu

Ibunda Tersangka Pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta Menangis Minta Anaknya Tak Dipenjara

Polres Metro Jakarta Selatan mengupayakan keadilan restoratif kepada kedua belah pihak terkait dengan kasus pengeroyokan di SMAN 70 Jakarta.


Vonis Bui 50 Tahun Wanita El Salvador Picu Amarah Kelompok Hak Aborsi

1 hari lalu

Vonis Bui 50 Tahun Wanita El Salvador Picu Amarah Kelompok Hak Aborsi

El Salvador memiliki undang-undang paling keras di dunia menyangkut anti-aborsi


Kasus Holywings, Sekum Muhammadiyah Singgung Ideologi Anti Agama

3 hari lalu

Kasus Holywings, Sekum Muhammadiyah Singgung Ideologi Anti Agama

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah, Abdul Mu'ti, menilai promo miras Holywings termasuk bentuk ekstremisme


Perkosa dan Siksa Kuda, Pria di Texas Dihukum 10 Tahun Penjara

3 hari lalu

Perkosa dan Siksa Kuda, Pria di Texas Dihukum 10 Tahun Penjara

Seorang pria di San Antonio, Texas, Amerika Serikat divonis 10 tahun setelah memperkosa sejumlah kuda


Beda Penetapan Idul Adha dengan Muhammadiyah, PBNU: Perbedaan Harus Dihormati

6 hari lalu

Beda Penetapan Idul Adha dengan Muhammadiyah, PBNU: Perbedaan Harus Dihormati

PBNU menyebut perbedaan penetapan Hari Raya Idul Adha antara Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah merupakan perbedaan yang harus dihormati.


Jalan-jalan ke Danau Maninjau Jangan Lupa Cicipi Olahan Ikan Bilih dan Ikan Rinuak

6 hari lalu

Jalan-jalan ke Danau Maninjau Jangan Lupa Cicipi Olahan Ikan Bilih dan Ikan Rinuak

Danau Maninjau merupakan destinasi wisata unggulan di Sumatera Barat, memiliki olahan kuliner khas berbahan dasar ikan bilih dan ikan rinuak.


Tetapkan Idul Adha 9 Juli, Muhammadiyah Minta Pemerintah Beri Kebebasan

6 hari lalu

Tetapkan Idul Adha 9 Juli, Muhammadiyah Minta Pemerintah Beri Kebebasan

Sekretaris Umum Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah, Abdul Mu'ti mengatakan pihaknya tetap akan merayakan Hari Raya Idul Adha pada Sabtu, 9 Juli 2022


Berbeda dengan Muhammadiyah, Kemenag Tetapkan Idul Adha pada Ahad, 10 Juli 2022

7 hari lalu

Berbeda dengan Muhammadiyah, Kemenag Tetapkan Idul Adha pada Ahad, 10 Juli 2022

Kementerian Agama memutuskan bahwa Hari Raya Idul Adha atau 10 Zulhijah 1443 Hijriah jatuh pada Ahad, 10 Juli 2022.