Kemenkes Diminta Alokasikan Vaksin Johnson & Johnson untuk Masyarakat Adat

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Warga Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan dari kelompok Temenggung Rusman melakukan pengecekan suhu tubuh sebelum menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama di Puskesmas Bungku, Batanghari, Jambi, Sabtu, 7 Agustus 2021. Pemberian vaksin bagi sejumlah warga komunitas adat Batin Sembilan di Kabupaten Batanghari bertujuan menghambat perluasan sebaran virus dan sekaligus memperluas jangkauan pemberian vaksin hingga ke pelosok. ANTARA/Wahdi Septiawan

    Warga Suku Anak Dalam (SAD) Batin Sembilan dari kelompok Temenggung Rusman melakukan pengecekan suhu tubuh sebelum menerima suntikan vaksin Covid-19 dosis pertama di Puskesmas Bungku, Batanghari, Jambi, Sabtu, 7 Agustus 2021. Pemberian vaksin bagi sejumlah warga komunitas adat Batin Sembilan di Kabupaten Batanghari bertujuan menghambat perluasan sebaran virus dan sekaligus memperluas jangkauan pemberian vaksin hingga ke pelosok. ANTARA/Wahdi Septiawan

    TEMPO.CO, Jakarta - Koalisi Masyarakat Sipil untuk Akses Vaksinasi meminta Kementerian Kesehatan mengalokasikan Vaksin Johnson & Johnson untuk masyarakat adat dan kelompok rentan, terutama di luar Pulau Jawa. Sebab, vaksin J&J atau vaksin Janssen Ad26.CoV2.S ini diberikan dalam dosis tunggal atau cukup sekali suntik.

    Direktur Eksekutif Filantropi Indonesia, Hamid Abidin mengatakan, koalisi sudah bekerja membantu pemerintah melakukan vaksinasi bagi masyarakat adat dan kelompok rentan di lebih dari 30 kabupaten/kota di sembilan provinsi. Dari pengalaman tersebut, ujar dia, menggelar vaksinasi di luar Jawa bukan hal mudah. Faktor jarak, kondisi jalan, hingga sarana transportasi bisa menyurutkan minat warga.

    "Untuk itu, penggunaan vaksin sekali suntik, khususnya di luar Jawa, akan membuat vaksinasi lebih efisien karena tak perlu dua kali penyelenggaraan vaksinasi," kata Hamid lewat keterangan tertulis, Rabu, 15 September 2021.

    Sekretaris Jenderal Aliansi Masyarakat Adat (AMAN) Rukka Sombolinggi menambahkan, vaksin ini cocok digunakan di daerah pelosok, di mana akses angkutan kendaraan minim.

    "Misalnya di Meratus, Kalimantan Selatan, orang harus berjalan kaki dua hari demi menempuh jarak ke tempat vaksin. Jika mereka hanya perlu sekali vaksin, akan sangat membantu,” kata Rukka.

    Demikian pula dengan vaksinasi di kalangan disabilitas. Co-founder Organisasi Harapan Nusantara (OHANA), Buyung Ridwan Tanjung mengatakan, berdasarkan pengalaman vaksinasi bagi kalangan disabilitas di Bantul, Yogyakarta, pada Agustus lalu, butuh persiapan ekstra panjang, tempat khusus, juru bahasa isyarat, dan tenaga pendamping tambahan.

    Penyelenggara vaksinasi harus melakukan edukasi agar penyandang disabilitas mau divaksin. Lokasi vaksinasi juga tak bisa asal pilih, harus ramah bagi pengguna kursi roda, kruk, atau alat bantu lainnya. Belum lagi, ujar Buyung, tak semua penyandang disabilitas memiliki kendaraan untuk menuju lokasi vaksinasi.

    "Jika pemerintah mengalokasikan vaksin dari Johnson & Johnson ini untuk masyarakat adat di pedalaman, kalangan disabilitas atau kelompok rentan, maka beban kerja vaksinasi akan lebih ringan," tuturnya.

    Indonesia telah menerima 500 ribu dosis vaksin Janssen dari Belanda, Sabtu 11 September 2021. Empat hari sebelumnya, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) juga telah mengeluarkan izin penggunaan darurat atau EUA (Emergency Use Authorization) untuk penyuntikan vaksin ini.

    Kepala BPOM Penny K Lukito menyebut vaksin produksi perusahaan farmasi Johnson & Johnson ini dapat digunakan bagi masyarakat usia 18 tahun ke atas dengan dosis tunggal sebanyak 0,5 mililiter.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ketahui, Syarat Sebelum Melakukan Perjalanan atau Traveling Saat PPKM

    Pemerintah menyesuaikan sejumlah aturan PPKM berlevel, termasuk syarat traveling baik domestik maupun internasional.