Epidemiolog: PPKM Darurat Belum Signifikan Kendalikan Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Eko Ari Wibowo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Bagikan Berita
    Petugas memeriksa Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di pos penyekatan PPKM Level 4 Margonda, Depok, Jawa Barat, Selasa, 27 Juli 2021. Polrestro Depok memperpanjang penerapan penyekatan sejumlah titik perbatasan Depok dengan wilayah lain pada perpanjangan PPKM Level 4 yang berlaku hingga 2 Agustus 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Petugas memeriksa Surat Tanda Registrasi Pekerja (STRP) di pos penyekatan PPKM Level 4 Margonda, Depok, Jawa Barat, Selasa, 27 Juli 2021. Polrestro Depok memperpanjang penerapan penyekatan sejumlah titik perbatasan Depok dengan wilayah lain pada perpanjangan PPKM Level 4 yang berlaku hingga 2 Agustus 2021. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog dari Griffith University Dicky Budiman menilai penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat yang berjalan sejak 3 Juli hingga saat ini, belum efektif mengendalikan pandemi Covid-19 di Indonesia. Hal ini berdasarkan sejumlah indikator yang menurut dia belum ideal.

    "Harus diketahui tes positivity rate kita masih jauh dan kemudian angka kematian tinggi. Dan kita melihat bahwa ada belum menguatnya pola penerapan 3T kita dan masalah 5M. Sebetulnya kalau sisi berhasilnya, ya (PPKM Darurat) belum signifikan," kata Dicky saat dihubungi, Sabtu, 31 Juli 2021.

    Dicky mendasarkan argumennya dari data yang dirilis oleh Our World in Data hingga 30 Juli 2021. Dari data itu, tercatat bahwa kasus terkonfirmasi per 1 juta dari 3 Juli, Indonesia ada di angka 85,07 per 1 juta, dan pada 30 Juli 151,4 per 1 juta.

    "Itu kasus terinfeksi per 1 juta. Itu berarti besar, masih tinggi," kata dia.

    Untuk angka kematian per 1 juta, per 3 Juli tercatat sebesar 1,72 per 1 juta. Sedangkan pada 30 Juli itu 6,12 per 1 juta. Untuk case fatality rate juga meningkat dari 3,44 persen pada 3 Juli menjadi 3,5 persen pada 30 Juli.

    Tes yang dilakukan untuk menemukan 1 kasus terkonfirmasi juga mengalami sedikit penurunan dari 3 Juli itu 4,1 tes untuk 1 kasus terkonfirmasi, menjadi 3,8 per 1 kasus di 30 Juli. Sedangkan untuk positivity rate, tercatat dari 24,1 pada 3 Juli, meningkat menjadi 26,5 persen pada 30 Juli.

    "Semua masih jauh di atas 5 persen. Yang artinya pandemi belum terkendali dengan baik," kata Dicky.

    Meski begitu, Dicky mengatakan tak semua merupakan kabar buruk. Angka vaksinasi meningkat cukup signifikan hingga 2 persen. Selain itu, tingkat keterisian rumah sakit juga menurun.

    "Harus dipahami memang situasinya sudah berat dan kompleks. Sehingga wajar kalau belum bisa (signifikan). Padahal PPKM Darurat sudah jauh diperkuat, tapi masalahnya sudah jauh lebih besar juga," kata Dicky.

    Karena itu, menjelang masa akhir PPKM pada 2 Agustus mendatang, masih banyak yang harus dibenahi pemerintah dalam mengendalikan pandemi ini. Masyarakat juga ia sebut harus lebih disiplin dalam menjalankan protokol kesehatan. "Untuk itu kalau menurut saya keputusan diteruskan tidaknya diputuskan pada kesiapan dari sisi pemerintah dan masyarakat," kata Dicky.

    Baca: Tak Mungkin Terapkan Lockdown, Jokowi: PPKM Darurat Saja Daerah Menjerit


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PPKM Level 3 selama Nataru Batal, Ini Aturan Baru yang Diterapkan

    Rencana PPKM Level 3 di seluruh tanah air selama Natal dan Tahun baru telah batal ditetapan. Gantinya, ada aturan baru pengganti pada periode Nataru.