Kematian Covid Lebih dari Seribu dalam 6 Hari, Satgas: Ini Bukan Sekedar Angka

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Foto udara warga berziarah di dekat pusara keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis, 15 Juli 2021. Pada Kamis 15 Juli kasus aktif di Indonesia mencapai 480.199 kasus, melampaui Rusia yang tercatat 457.250 kasus, Indonesia juga jauh melampaui India yang tercatat 432.011 kasus. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    Foto udara warga berziarah di dekat pusara keluarganya di area pemakaman khusus COVID-19 di TPU Rorotan, Cilincing, Jakarta Utara, Kamis, 15 Juli 2021. Pada Kamis 15 Juli kasus aktif di Indonesia mencapai 480.199 kasus, melampaui Rusia yang tercatat 457.250 kasus, Indonesia juga jauh melampaui India yang tercatat 432.011 kasus. ANTARA FOTO/M Risyal Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Juru bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyoroti tingginya angka kematian akibat Covid-19 dalam seminggu terakhir. Ia mengatakan hal ini berbanding terbalik dengan kondisi penambahan kasus yang secara data justru mengalami penurunan.

    "Ini tidak bisa ditoleransi lagi karena ini bukan sekedar angka. Di dalamnya ada keluarga, kerabat, kolega, dan orang-orang tercinta yang pergi meninggalkan kita. Kasus Covid-19 yang turun dan kesembuhan yang meningkat harus diikuti dengan kematian yang turun pula," kata Wiku dalam konferensi pers daring, Kamis, 22 Juli 2021.

    Ia mengatakan saat ini, angka kematian yang tinggi memang masih jadi tantangan. Kemarin, tercatat rekor terbanyak kasus kematian dalam sehari dengan total 1.383 kasus.

    Wiku mengatakan angka kematian di hampir seluruh provinsi menunjukan tren peningkatan kecuali DKI Jakarta. "DKI Jakarta per kemarin menunjukkan penurunan yang signifikan dari 268 menjadi 95 kematian dalam sehari," kata dia.

    ADVERTISEMENT

    Saat dihubungi sebelumnya, Wiku mengatakan Angka kematian yang tinggi dapat disebabkan dari banyak hal. "Bisa karena komorbid yang dimiliki maupun penanganan kesehatan yang terlambat," kata Wiku.

    Oleh karena itu, ia mengatakan saat ini pemerintah berupaya mengoptimalisasi pencegahan di hulu untuk menekan angka kematian. Pencegahan di tingkat keluarga maupun aktivitas di sektor-sektor besar sama-sama dikendalikan melalui kebijakan PPKM Darurat dan PPKM Mikro. "Diharapkan dengan pencegahan yang holistik ini, kasus positif dan kontak eratnya dapat terjaring dengan cepat dan populasi berisiko dapat terlindungi lebih," kata Wiku.

    Baca juga: Permintaan Peti Jenazah di Medan Meningkat Hingga 30 Persen


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Warga Tak Punya NIK Bisa Divaksinasi, Simak Caranya

    Demi mencapai target tinggi untuk vaksinasi Covid-19, Kementerian Kesehatan memutuskan warga yang tak punya NIK tetap dapat divaksin. Ini caranya...