Kemenkes: Vaksin Sinovac 94 Persen Cegah Covid-19 Pada Tenaga Kesehatan

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 pada pelajar di SMAN 20 Jakarta Pusat, Kamis, 1 Juli 2021. Vaksinasi Covid-19 bagi anak-anak usia 12-17 tahun dimulai hari ini Kamis, 1 Juli 2021, dengan menggunakan vaksin Sinovac. TEMPO/M Taufan Rengganis

    Tenaga kesehatan menyuntikkan vaksin Covid-19 pada pelajar di SMAN 20 Jakarta Pusat, Kamis, 1 Juli 2021. Vaksinasi Covid-19 bagi anak-anak usia 12-17 tahun dimulai hari ini Kamis, 1 Juli 2021, dengan menggunakan vaksin Sinovac. TEMPO/M Taufan Rengganis

    TEMPO.CO, Jakarta – Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan Kementerian Kesehatan mengeluarkan kajian tentang efektivitas vaksin Sinovac terhadap tenaga kesehatan. Riset dilakukan kepada tenaga kesehatan di DKI Jakarta sejak 13 Januari hingga 18 Maret 2021.

    Berdasarkan kajian tersebut, Kementerian Kesehatan menemukan vaksin Sinovac efektif mencegah infeksi Covid-19 hingga 94 persen pada suntikan dosis kedua. Efektivitas tercapai setelah 28 hari penyuntikan.

    Dosis kedua juga mencegah perawatan Covid-19 pada hari ke-28 setelah penyuntikan. Efektivitas vaksin untuk mencegah perawatan mencapai 96 persen. Kemudian, vaksin Covid-19 buatan Cina ini juga turut mencegah kematian sampai 100 persen setelah dosis kedua.

    Sedangkan untuk pemberian vaksin dosis pertama, Sinovac tercatat bisa mencegah infeksi virus Corona sampai 13 persen pada hari ke-14 setelah penyuntikan. Selanjutnya, pemberian dosis pertama akan mencegah perawatan Covid-19 sampai 53 persen pada hari ketujuh setelah penyuntikan.

    Studi efektivitas vaksin Sinovac ini dilakukan pada 25.374 tenaga kesehatan di DKI Jakarta. Korespondon untuk studi berusia di atas 18 tahun dan dinyatakan negatif Covid-19. Kajian ini menggunakan metode observasional dengan desain retrospektif kohor.

    Sementara itu, Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) menyebut kenaikan jumlah dokter yang meninggal saat menangani Covid-19, meningkat signifikan dari Mei hingga Juni 2021. Berdasarkan data IDI, ada 7 dokter meninggal pada Mei dan naik menjadi 26 orang pada Juni.

    IDI menyebut angka kematian dokter paling tinggi sebenarnya pada Januari 2021, yaitu 65 orang. Namun, kenaikan dari Desember 2020 ke bulan berikutnya tak tinggi. Di Desember 2020, ada 57 dokter meninggal.

    Setelah angka kematian Januari tinggi, grafik mulai menurun. Pada Februari ada 31 dokter meninggal. Kemudian turun lagi menjadi 16 orang pada Maret dan 8 dokter pada April. Di Mei, angkanya kembali turun menjadi 7 orang. 

    "Baru kemudian hingga per 25 Juni kemarin, meningkat tajam lagi, sekitar 26 orang (dokter sudah meninggal)," kata Tim Mitigasi Dokter PB IDI, Mohammad Adib Khumaidi, saat dihubungi Tempo, Senin, 29 Juni 2021. IDI tidak mau berspekulasi apakah tingginya kematian ini karena vaksin Sinovac kurang efektif. Yang jelas mereka mendorong agar ada penyuntikan dosis ketiga untuk tenaga kesehatan.

    Baca juga: IDI Dorong Pemberian Vaksin Covid-19 Pada Tenaga Kesehatan


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    PTM Lahirkan Klaster Covid-19 di Sekolah, 3 Provinsi Catat Lebih dari 100 Gugus

    Kebijakan PTM mulai diterapkan sejak akhir Agustus lalu. Namun, hanya anak 12 tahun ke atas yang boleh divaksin. Padahal, PTM digelar mulai dari PAUD.