Yenny Wahid: Agama Bukan Jadi Faktor Utama Penyebab Radikalisasi

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Yenny Wahid menyampaikan sambutan dalam peresmian aula dan Masjid KH Abdurahman Wahid di Gedung BP2MI, Jakarta, Minggu, 31 Januari 2021. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) meresmikan nama Aula dan Masjid atas nama mendiang Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur. TEMPO/Muhammad Hidayat

    Yenny Wahid menyampaikan sambutan dalam peresmian aula dan Masjid KH Abdurahman Wahid di Gedung BP2MI, Jakarta, Minggu, 31 Januari 2021. Badan Pelindungan Pekerja Migran Indonesia (BP2MI) meresmikan nama Aula dan Masjid atas nama mendiang Presiden ke-4 KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur. TEMPO/Muhammad Hidayat

    TEMPO.CO, Jakarta - Direktur Wahid Foundation, Yenny Wahid, mengatakan saat ini banyak orang berpikir agama adalah faktor yang menjadikan orang radikal atau teroris. Padahal, ia menyebut faktor terbesar penyebab radikaliasi di masyarakat bukan agama.

    "Bukan ajaran agamanya sendiri yang menjadikan orang ikut dalam gerakan-gerakan radikal intoleran, tapi faktor paling besarnya adalah faktor kegelisahan, faktor kecemasan, faktor ketidakyakinan diri, faktor kemarahan, faktor dia lihat ketidakadilan di sekitarnya. Ini faktor terbesar," kata Yenny dalam diskusi daring, Sabtu, 1 Mei 2021.

    Yenny mengutip grafolog Deborah Dewi, yang menganalisa tulisan tangan para pelaku bom di Makassar dan pelaku penyerangan Mabes Polri. Yenny mengatakan dari analisa Deborah, para pelaku tersebut punya rasa kepercayaan diri yang rendah dan punya tingkat kegalauan yang tinggi.

    "Mereka kemudian bertemu dengan orang-orang yang melakukan provokasi menggunakan dalil agama untuk memberikan rasa aman dan rasa percaya diri yang semu. Dengan dalil agama didoktrin untuk membuat mereka menjadi pede, menjadi penting, membuat mereka menjadi seperti pahlawan. Ini yang terjadi," kata Yenny.

    ADVERTISEMENT

    Karena itu, Yenny kembali menegaskan bukan faktor agama yang menuntun seorang menjadi radikal atau teroris. Apalagi provokasi tak hanya bisa dilakukan lewat doktrin agama. Doktrin politik, kata Yenny, juga telah terbukti mampu memprovokasi aksi kekerasan, seperti yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump di Amerika Serikat.

    Yenny menyoroti peran media sosial sebagai bagian dari pintu masuk perekrutan dan upaya provokasi itu. Meski banyak sisi positif, namun media sosial bisa membawa banyak dampak buruk. Selain membuat kecanduan, pengguna medsos, kata dia, juga dapat cenderung lebih mudah depresi dan berpotensi dimanfaatkan oleh kelompok yang salah.

    "Itu proses perekrutan pertama. Meski biasanya terjadi lagi perekrutan secara offline. Tapi sosmed bisa jadi gateway terhadap konten tak ramah," kata Yenny.

    Yenny mengatakan yang bisa dilakukan saat ini adalah memastikan bahwa konten yang mereka dapatkan tidak hanya sepihak saja.

    "Jadi kita harus kita pastikan mereka terima konten yang berbeda. itu lah peran acara hari ini bagaimana kita himpun content creator, tokoh, untuk membantu tokoh muda dan hebat untuk menelurkan narasi konten yang bisa membantu kita untuk memfasilitasi teman-teman kita semua masyarakat dengan konten yang ramah," kata Yenny Wahid.

    Baca juga: Wahid Foundation Kecam Insiden Bom Bunuh Diri di Depan Gereja Katedral Makassar


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Pendaftaran Kartu Prakeraja Gelombang 18 Akan Dibuka, Ini Syarat dan Cara Daftar

    Pemerintah akan membuka pendaftaran program Kartu Prakerja Gelombang 18 dalam waktu dekat. Begini syarat dan cara daftar untuk mendapatkan kartu itu.