Kejanggalan Aisha Weddings Versi Drone Emprit: Situs yang Baru-Peluncuran Cepat

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Perserta membawa poster dalam aksi Women's March di Hari Perempuan Internasional di Bandung, 4 Maret 2018. Mereka mengkampanyekan stop diskriminasi terhadap perempuan, perkawinan anak, dan kekerasan terhadap perempuan. TEMPO/Prima Mulia

    Perserta membawa poster dalam aksi Women's March di Hari Perempuan Internasional di Bandung, 4 Maret 2018. Mereka mengkampanyekan stop diskriminasi terhadap perempuan, perkawinan anak, dan kekerasan terhadap perempuan. TEMPO/Prima Mulia

    TEMPO.CO, Jakarta - Pendiri Drone Emprit, Ismail Fahmi, menilai ada kejanggalan di balik kehebohan munculnya situs jasa penyedia pernikahan bernama Aisha Weddings.

    Wedding organization (WO) itu ramai dibicarakan setelah menganjurkan perempuan muslim agar menikah dalam rentang usia 12-21 tahun.

    Berikut sejumlah kejanggalan yang ditemukan Drone Emprit:

    1. Situs dan konten yang baru

    ADVERTISEMENT

    Kejanggalan pertama yang Fahmi kupas adalah bahwa situs Aisha Weddings pada 2018 dan sebelumnya, redirect ke aishaevents.com. Lalu, lompat diperbaharui pada 2021.

    Konten dalam situs pun juga baru diperbahurui pada 9-10 Februari 2021. "Namun, konten belum lengkap. Baru beberapa halaman yang terisi, seperti keyakinan tentang poligami, untuk Kaum Muda. Sedangkan bagian Layanan, Covid-19, kontak belum diisi. Sepertinya web ini baru dibuat, tapi keburu ketahuan," cuit Fahmi seperti dikutip Tempo pada Kamis, 11 Februari 2021.

    Tempo sudah meminta izin kepada Fahmi untuk mengutip analisanya terhadap Aisha Weddings ini.

    2. Waktu peluncuran yang cepat

    Kemudian, hal kedua yang dicurigai Fahmi adalah cepatnya peluncuran jasa ini di beberapa daerah. Diketahui spanduk Aisha Weddings telah terpasang di sejumlah lokasi.

    "Kalau spanduk ada, artinya sudah siap terima layanan. Apalagi ada email dengan domain. Tapi seperti saya paparkan di atas, konten belum lengkap," kata Fahmi.

    3. Tren di Twitter

    Terkait kehebohan publik, Fahmi menilai Aisha Weddings cukup berhasil menyita perhatian. Sejak diunggah pada 9 Februari 2021, pengguna Twitter banyak yang berkomentar.

    Fahmi mengatakan, komentar yang paling populer adalah sebagian curiga ini bisnis. Di sisi lain, banyak yang percaya bahwa Aisha Weddings betul ada sehingga muncul tudingan ada penggunaan agama untuk perdagangan orang, bisnis seks, dan sebagainya.

    Kehebohan pun ditambah dengan media massa yang turut mengulas. Tak tanggung, sejumlah organisasi dan lembaga seperti Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Muhammadiyah, Majelis Ulama Indonesia, ikut memberikan pernyataan, bahkan siap mempolisikan WO tersebut.

    Fahmi menyarankan agar ribut-ribut soal Aisha Weddings tak diperpanjang. "Karena memang tidak jelas siapa yang membuat, dan tujuannya sepertinya bukan sungguh-sungguh sebagai iklan jasa penyedia pernikahan profesional. Kita serahkan kepada kepolisian untuk mengungkap pelakunya biar tidak terulang," kata dia.

    Baca juga: Kasus Aisha Weddings, Komnas Perempuan Prihatin Atas Penggunaan Agama


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Aturan Makan di Warteg saat PPKM Level 4 dan 3 di Jawa - Bali

    Pemerintah membuat aturan yang terkesan lucu pada penerapan PPKM Level 4 dan 3 soal makan di warteg. Mendagri Tito Karnavian ikut memberikan pendapat.