BMKG Jelaskan 6 Fenomena Iklim Penyebab Cuaca Ekstrem di Indonesia

Reporter:
Editor:

Amirullah

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang pejalan kaki melintasi Jalan Gatot Subroto saat hujan yang cukup lebat, di Jakarta Selatan, Senin, 6 April 2020. TEMPO/Imam Sukamto

    Seorang pejalan kaki melintasi Jalan Gatot Subroto saat hujan yang cukup lebat, di Jakarta Selatan, Senin, 6 April 2020. TEMPO/Imam Sukamto

    TEMPO.CO, Jakarta - Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) menyebut ada enam fenomena yang menyebabkan cuaca ekstrem di Indonesia. Cuaca ekstrem tersebut yang menyebabkan bencana hidrometeorologi di sejumlah kawasan di Indonesia.

    “Sejak September BMKG sudah memberikan peringatan dini cuaca ekstrem terkait dengan cuaca akibat adanya berbagai fenomena,” kata Kepala BMKG Dwikorita Karnawati dalam jumpa pers daring, Sabtu, 23 Januari 2021.

    Dwikorita mengatakan fenomena pertama adalah La Nina. Fenomena cuaca la nina memiliki siklus 2 sampai 8 tahun. Dia mengatakan fenomena ini terjadi karena adanya anomali suhu di kawasan Samudera Pasifik bagian tengah yang membuatnya lebih dingin dibandingkan suhu permukaan laut di Indonesia. Hal itu menyebabkan terjadinya aliran massa udara yang membawa hujan ke wilayah Indonesia.

    Fenomena kedua, kata dia, adalah angin Monsun Asia. Angin itu salah satu penyebab dimulainya musim hujan di Indonesia. Fenomena ketiga adalah Madden-Jullian Oscillation. Fenomena ini yaitu gelombang atmosfer yang membawa kumpulan awan hujan yang bergerak dari Samudera Hindia menuju wilayah Pasifik. Saat melewati wilayah Indonesia, awan itu tertahan oleh kontur pegunungan di Indonesia sehingga menyebabkan hujan.

    Baca juga:
    Ini Sebab dan Fakta Gempa 7 M yang Guncang Kepulauan Talaud

    Keempat fenomena Kelvin and Rossby yang meningkatkan pasokan air hujan di Indonesia. Fenomena kelima, kata Dwikorita, adalah menghangatnya suhu permukaan air laut Indonesia yang menyebabkan peningkatan penguapan di wilayah Indonesia. Dwikorita mengatakan fenomena terakhir adalah bibit siklon.

    Dia mengatakan BMKG membuat empat skenario mengenai kemungkinan terjadinya fenomena itu. Skenario terbaik adalah hanya satu fenomena yang terjadi, sementara skenario terburuk adalah ketika semua fenomena itu terjadi secara bersamaan. Dwikorita mengatakan saat ini yang terjadi adalah skenario terburuk. “Nampaknya, yang terjadi adalah skenario keempat saat itu, yang terburuk yaitu berbagai fenomena itu terjadi secara bersamaan,” kata dia.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jadwal Imsakiyah dan Puasa Ramadhan 1442 H - 2021 M

    Ini jadwal puasa dan imsakiyah Ramadhan 1442 H yang jatuh pada 13 April hingga 12 Mei 2021, Idul Fitri 1 Syawal 1442 H jatuh pada 13 Mei 2021.