Ini Penyebab Tim Advokasi Sulit Adukan Kematian Laskar FPI ke ICC

Reporter:
Editor:

Syailendra Persada

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Reka adegan saat polisi menangkap anggota laskar FPI di Karawang, Jawa Barat, Senin, 14 Desember 2020.  Rekonstruksi kejadian penembakan enam anggota FPI di jalan Tol Jakarta-Cikampek oleh Bareskrim Polri dimulai dari titik pertama, berlokasi antara Gerbang Tol Karawang dengan Bundaran Badami, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. TEMPO/Rosseno Aji

    Reka adegan saat polisi menangkap anggota laskar FPI di Karawang, Jawa Barat, Senin, 14 Desember 2020. Rekonstruksi kejadian penembakan enam anggota FPI di jalan Tol Jakarta-Cikampek oleh Bareskrim Polri dimulai dari titik pertama, berlokasi antara Gerbang Tol Karawang dengan Bundaran Badami, Kabupaten Karawang, Jawa Barat. TEMPO/Rosseno Aji

    TEMPO.CO, Jakarta - Tim pengacara laskar FPI disebut akan kesulitan membawa perkara ini ke International Criminal Court (ICC).

    Guru Besar Hukum Internasional Fakultas Hukum Universitas Indonesia Hikmahanto Juwana, mengatakan hanya negara yang terdaftar sebagai anggota ICC saja yang bisa melapor.

    "Merujuk pada Pasal 14 Statuta dari ICC, hanya negara peserta yang dapat mengajukan pelaporan yang ada di negaranya sendiri," kata Rektor Universitas Jenderal Achmad Yani ini, Jumat, 22 Januari 2021.

    Baca juga: Pengacara Laporkan Kematian Laskar FPI ke Komite Antipenyiksaan Internasional

    ADVERTISEMENT

    Hikmahanto mengatakan memang ada kasus Myanmar yang bukan anggota, tapi diadukan Bangladesh terkait isu Rohingya. Namun, kata dia, konteksnya, saat itu banyak etnis Rohingya yang ada di Bangladesh.

    Pelaporan serupa, dinilai Hikmahanto tak dapat diterapkan dalam kasus kematian enam anggota FPI ini. "Menurut saya tidak (bisa diterapkan). Karena tidak ada irisan dengan negara lain," kata dia.

    Sebelumnya, tim pengacara mengatakan melaporkan pelanggaran HAM dalam kematian anggota laskar ke pengadilan internasional atau ICC lewat negara anggota. Ketua tim advokasi kematian enam laskar FPI, Hariadi Nasution, mengatakan, sudah menghitung konsekuensi bahwa Indonesia bukan bagian statuta Roma. Sehingga, mereka membawa perkara ini lewat negara lain.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Perjalanan Ganda Putri Indonesia Masuk Semifinal Olimpiade Pertama dalam Sejarah

    Pasangan ganda putri Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, lolos ke semifinal badminton di Olimpiade 2020. Prestasi itu jadi tonggak olahraga Indonesia.