PSBB Jawa Bali, Ganjar Pranowo Minta Semua Cerewet Soal Protokol Kesehatan

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  •  Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memegang alat GeNose di di UGM Science Techno Park, Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa 5 Januari 2021. ANTARA/HO-Humas Pemprov Jateng

    Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo memegang alat GeNose di di UGM Science Techno Park, Kalasan, Sleman, DI Yogyakarta, Selasa 5 Januari 2021. ANTARA/HO-Humas Pemprov Jateng

    TEMPO.CO, Jakarta - Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo mengatakan pihaknya sudah bersiap melaksanakan pemberlakukan pembatasan kegiatan masyarakat atau PSBB Jawa Bali yang berlaku mulai 11-25 Januari 2021. Ia mengatakan pembatasan semacam ini bukan kali pertama dilaksanakan di Jawa Tengah.

    "Kita tinggal memetakan ulang, dan hasil keputusan rapat dengan presiden, kita sepakat seluruh gubernur untuk melakukan pemetaan. Sebenarnya tak terlalu sulit," kata Ganjar dalam konferensi pers daring, Kamis, 7 Januari 2021.

    Ganjar mengatakan Jawa Tengah akan menerapkan PSBB Jawa Bali dengan mikro zonasi yang khusus untuk wilayah dengan status darurat. Ia mengatakan hal ini akan dibarengi dengan edukasi kepada masyarakat yang juga paralel dengan operasi yustisi.

    "Nanti akan coba dilibatkan tokoh agama, tokoh masyarakat, dari kampus, tokoh milenial untuk kembali cerewet pada persoalan 3M. Kita cerewet pada kondisi," kata Ganjar.

    ADVERTISEMENT

    Selain itu, Ganjar Pranowo mengatakan masyarakat juga perlu diberitahu secara nyata kondisi saat ini. Hal ini agar masyarakat sadar dan mau tergerak untuk ikut berkontribusi dalam penerapan protokol kesehatan.

    "Harus ditampilkan berapa sih tenaga kesehatan yang meninggal, bagaimana kondisi rumah sakit, bagaimana sih layanan yang mulai terganggu bagi mereka yang sakit non covid, berapa kiai yang meninggal," kata Ganjar.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Klaim Landai Angka Kasus Harian Covid-19, Angka itu Mengelabui Kita

    Pemerintah klaim kasus harian Covid-19 mulai melandai. Lalu mengapa pendiri LaporCovid-19 mengatakan bahwa angka itu tak ada artinya?