Positivity Rate dan Kematian Covid-19 Naik, Epidemiolog: Sudah Terlambat

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Petugas memakamkan jenazah COVID-19 non muslim di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu, 2 Desember 2020. Lahan khusus untuk jenazah COVID-19 Muslim di TPU Pondok Ranggon sudah penuh. Karena itu, TPU Pondok Ranggon memutuskan hanya melayani jenazah COVID-19 Muslim dengan sistem tumpang. Sistem tumpang yang dimaksud adalah dengan menumpangkan jenazah COVID-19 ke makam jenazah anggota keluarga atau orang yang dikenal. Namun, sistem tumpang hanya bisa dilakukan atas persetujuan atau izin dari pihak keluarga. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    Petugas memakamkan jenazah COVID-19 non muslim di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Rabu, 2 Desember 2020. Lahan khusus untuk jenazah COVID-19 Muslim di TPU Pondok Ranggon sudah penuh. Karena itu, TPU Pondok Ranggon memutuskan hanya melayani jenazah COVID-19 Muslim dengan sistem tumpang. Sistem tumpang yang dimaksud adalah dengan menumpangkan jenazah COVID-19 ke makam jenazah anggota keluarga atau orang yang dikenal. Namun, sistem tumpang hanya bisa dilakukan atas persetujuan atau izin dari pihak keluarga. TEMPO / Hilman Fathurrahman W

    TEMPO.CO, Jakarta - Epidemiolog dari Griffith University Australia, Dicky Budiman, menilai peningkatan angka kasus harian positif Covid-19 dan kematian akibat Covid-19 menunjukkan pandemi tidak terkendali. "Pandemi kita tidak terkendali dan ini sudah berlangsung bukan hanya 1-2 bulan, sudah lama," kata Dicky kepada Tempo, Senin, 21 Desember 2020.

    Dicky menyebutkan faktor lainnya adalah positivity rate atau perbandingan antara jumlah kasus positif Covid-19 dengan jumlah tes yang dilakukan di Indonesia juga di atas 10 persen. Bahkan, menurut Dicky, angka kematian sesungguhnya kemungkinan tiga kali lipat dari angka yang dilaporkan pemerintah.

    Ia mengatakan hal ini sudah memberikan sinyal serius bahwa pemerintah tidak memadai dalam menekan kurva dan memutus transmisi Covid-19 untuk mencegah penambahan atau pola penambahan eksponensialnya.

    "Artinya sudah telat. Upaya-upaya kita sudah telat dan tertinggal jauh dari 4 minggu kecepatan virus ini menyebar," ujar Dicky.

    Dicky menuturkan tidak ada cara lain yang bisa dilakukan selain penguatan 3T, yaitu testing, tracing, treatment. Testing harus mengacu pada jumlah populasi dan eskalasi pandeminya.

    "Ini harus mengarah dan diupayakan positivity rate di bawah 10 persen, bahkan 5 persen. Ini PR tidak mudah, perlu waktu 2-3 bulan dengan cakupan testing, tracing, karantina, isolasi yang konsisten," kata dia.

    Berdasarkan data Satgas Penanganan Covid-19 pada 20 Desember 2020, kasus kematian mencatatkan rekor dengan penambahan sebanyak 221 kasus dalam 1 hari.

    Kasus aktif Covid-19 di Indonesia saat ini 15,5 persen atau 103.239 kasus dari total 664.930 kasus terkonfirmasi. Adapun penambahan kasus positif Covid-19 pada 20 Desember sebanyak 6.982 orang dan kasus sembuh bertambah 5.551 orang.

    FRISKI RIANA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Sepak Terjang Artidjo Alkostar Si Algojo Koruptor

    Artidjo Alkostar, bekas hakim agung yang selalu memperberat hukuman para koruptor, meninggal dunia pada Ahad 28 Februari 2021. Bagaimana kiprahnya?